Home / Keagamaan

Sabtu, 7 Februari 2026 - 12:08 WIB

PWNU Aceh Prediksi Awal Ramadan 1447 H Jatuh pada 19 Februari 2026

Redaksi

Kajian hisab falakiyah Lembaga Falakiyah PWNU Aceh memprediksi awal Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026, berdasarkan posisi hilal dan parameter astronomi.(7/2/2026)

Kajian hisab falakiyah Lembaga Falakiyah PWNU Aceh memprediksi awal Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026, berdasarkan posisi hilal dan parameter astronomi.(7/2/2026)

Jakarta – Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Aceh memprediksi awal Ramadan 1447 Hijriah akan dimulai pada Kamis, 19 Februari 2026. Prediksi tersebut didasarkan pada kajian hisab falakiyah yang dilakukan oleh Lembaga Falakiyah PWNU Aceh, dengan mengacu pada parameter astronomi serta kriteria yang telah disepakati secara regional.(7/2/2026).

Ketua Lembaga Falakiyah PWNU Aceh, Tgk Ismail, menjelaskan bahwa secara astronomi terdapat tiga parameter utama yang menjadi acuan dalam penentuan awal bulan Hijriah, yakni konjungsi (ijtima’), ketinggian hilal, dan sudut elongasi bulan. Ketiga parameter ini saling berkaitan dan menjadi dasar penting untuk menilai kemungkinan hilal dapat terlihat atau tidak saat matahari terbenam.

Baca Juga :  Wagub Fadhlullah Hadiri Peringatan Maulid di Polda Aceh

Menurut Tgk Ismail, konjungsi merupakan titik awal dalam perhitungan kalender Hijriah, yaitu saat bulan dan matahari berada pada bujur ekliptika yang sama. Namun, ia menegaskan bahwa konjungsi saja belum cukup untuk menetapkan awal bulan, karena posisi bulan saat matahari terbenam juga harus diperhitungkan secara cermat.

Berdasarkan data hisab falakiyah yang dihimpun, penentuan awal Ramadan 1447 H berkaitan erat dengan posisi hilal pada Selasa, 17 Februari 2026, yang bertepatan dengan 29 Sya’ban 1447 H. Pada hari tersebut, konjungsi geosentrik terjadi pada pukul 19.01.07 WIB.

Baca Juga :  Panitia Ramadhan 1447 H Masjid Al hidayah Diisi Gen Z

“Artinya, saat matahari terbenam di seluruh wilayah Indonesia, peristiwa konjungsi belum terjadi. Akibatnya, posisi bulan pada saat matahari terbenam masih berada di bawah ufuk barat,” jelas Tgk Ismail, sebagaimana dikutip dari NUOnline.

Ia memaparkan bahwa ketinggian hilal di wilayah Indonesia pada tanggal tersebut berkisar antara minus satu derajat hingga minus dua derajat. Dengan posisi demikian, secara astronomis bulan mustahil dapat dirukyat, karena belum berada di atas ufuk saat matahari terbenam.

Selain ketinggian hilal, sudut elongasi bulan—yakni jarak sudut antara bulan dan matahari—juga menjadi parameter penting dalam menentukan visibilitas hilal. Pada kondisi tersebut, sudut elongasi belum memenuhi kriteria minimal yang memungkinkan hilal dapat terlihat.

Baca Juga :  CEO Samira Travel Doakan Aceh di Tanah Suci dan Tanggung Biaya Jamaah Umrah yang Terkena Dampak Banjir

Dengan mempertimbangkan seluruh parameter tersebut, Lembaga Falakiyah PWNU Aceh menyimpulkan bahwa bulan Sya’ban 1447 H digenapkan menjadi 30 hari, sehingga awal Ramadan 1447 Hijriah diprediksi jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.

Meski demikian, PWNU Aceh menegaskan bahwa penetapan awal Ramadan secara resmi tetap menunggu hasil sidang isbat yang diselenggarakan oleh pemerintah melalui Kementerian Agama Republik Indonesia, dengan mempertimbangkan laporan rukyat dari berbagai daerah di Tanah Air.(**)

Editor: Dahlan

Share :

Baca Juga

Keagamaan

Jelang Hari Bhayangkara ke-79, Kapolda Aceh Pimpin Ziarah dan Tabur Bunga di TMP Banda Aceh

Keagamaan

Pangdam Iskandar Muda Hadiri Peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW 1447 H/2026 M

Keagamaan

Halaqah Pengajian Meuligoe Bupati Aceh Besar Peringati Maulid Nabi 1447 H

Aceh

Panitia Ramadhan 1447 H Masjid Al hidayah Diisi Gen Z

Keagamaan

Wagub Fadhlullah Hadiri Peringatan Maulid di Polda Aceh

Keagamaan

CEO Samira Travel Doakan Aceh di Tanah Suci dan Tanggung Biaya Jamaah Umrah yang Terkena Dampak Banjir

Daerah

Qari Aceh Besar Tampil Maksimal di Cabang Tahfiz 30 Juz

Aceh Besar

PERISAI PUTEH INDATU ATJEH Merayakan Kenduri Maulid Akbar Secara Umum dan Khidmat