BANDA ACEH — Gelombang protes melanda Persiraja Banda Aceh setelah Laskar Rencong kembali menelan kekalahan 1-2 saat menjamu Sumsel United di Stadion H Dimurthala, Banda Aceh, Jumat (2/10/2026) malam. Hasil minor ini memperpanjang tren negatif klub di awal musim.
Usai laga berakhir, para suporter tidak langsung membubarkan diri. Berdiri di tribun selatan, mereka menyuarakan kekecewaan dengan melontarkan teriakan “Yudi Out” yang ditujukan kepada Wakil Presiden Persiraja Banda Aceh, Iswahyudi.
“Yudi out! Yudi out! Yudi kah tubit, Yud!” seru para suporter dari tribun.
Pelatih dan sejumlah pemain sempat mencoba menghampiri penonton untuk menenangkan situasi. Namun, suporter tetap bergeming dan mendesak jajaran manajemen Lantak Laju untuk menemui mereka serta mengeluarkan Iswahyudi.
Aksi berlanjut saat massa berpindah ke area pintu masuk VIP stadion. Di lokasi tersebut, mereka akhirnya bertemu dengan perwakilan manajemen, termasuk sekretaris dan manajer tim.
Seorang penonton yang enggan disebutkan namanya menyatakan bahwa Iswahyudi dinilai sebagai sosok yang paling bertanggung jawab atas kekalahan beruntun yang dialami Persiraja.
“Yudi harus keluar jumpai kami. Karena dia yang paling bertanggung jawab dalam kejadian ini,” tegasnya.
SKULL Minta Klarifikasi Manajemen
Ketua Suporter Kutaraja untuk Lantak Laju (SKULL), Teuku Iqbal Djohan, menjelaskan bahwa aksi massa tersebut merupakan bentuk kekecewaan sekaligus upaya meminta transparansi. Menurutnya, pertemuan dengan manajemen memang sudah direncanakan jika Persiraja kembali memetik hasil buruk.
“Sebelum pertandingan memang kita sudah berjanji sama anak-anak SKULL kalau memang hasilnya tidak baik hari ini, apalagi kalah seperti jelas kalah pada hari ini, kita menemui manajemen,” kata Iqbal.
Iqbal menyebut suporter ingin mendengar penjelasan resmi dari manajemen terkait kondisi internal tim serta berbagai isu negatif yang beredar di media sosial.
“Manajemen harus menemui kita untuk klarifikasi, menjelaskan semua isu yang selama ini tersebar di media sosial, seperti kecurigaan dan sebagainya. Itu kita minta penjelasan dari manajemen kenapa tim bisa seperti ini kondisinya,” ujarnya.
Mengenai teriakan “Yudi Out”, Iqbal meluruskan bahwa hal tersebut merupakan desakan agar Iswahyudi mau memberikan penjelasan secara langsung kepada publik.
“Kami butuh penjelasan juga, karena selama ini kan hanya isu di media sosial sedangkan kita tidak tahu apa yang terjadi dalam manajemen. Karena selama ini, manajemen tidak pernah memberitahu informasi ke media maupun umum. Jadi kita mau dengar juga langsung dari Bos Yudi,” terang Iqbal.
Di sisi lain, suporter menyadari adanya keterbatasan manajemen dalam merombak susunan pemain karena jendela transfer telah ditutup. Oleh karena itu, mereka sepakat untuk tetap memberikan dukungan penuh kepada jajaran skuad dan pelatih baru yang ada saat ini.
“Untuk membeli pemain baru, mengganti ataupun membuang pemain tidak bisa lagi. Jadi apa yang ada saat ini kita dukung,” tambahnya.
Mengingat perjalanan awal SKULL pada 2007 yang juga dimulai saat Persiraja berada di masa terpuruk, Iqbal mengimbau seluruh anggota SKULL dan pendukung Laskar Rencong untuk tidak berpaling dari klub.
“Mungkin hari ini kami hanya menyampaikan kegelisahan. Kami hanya perantara. Mungkin ini kegelisahan seluruh pecinta Persiraja. Saya berharap anggota SKULL memberi dukungan yang sama seperti dulu, seperti awal berdiri. Jangan saat Persiraja terpuruk malah kita tinggalkan,” tutur Iqbal.
Kekalahan dari Sumsel United membuat Persiraja Banda Aceh belum mengantongi satu pun poin dari empat laga perdana di Grup A Championship Indonesia 2026-2027. Hasil buruk empat kali kalah beruntun ini menempatkan Laskar Rencong di posisi kesembilan dari 10 tim di klasemen sementara Grup A.
Penulis: Hidayat. S
Editor: Dahlan









