Home / Internasional

Senin, 30 Maret 2026 - 23:43 WIB

Lumpuhnya Sang Mata Langit: Hancurnya E-3 Sentry AWACS AS dalam Serangan Iran

REDAKSI

Sebuah simbol supremasi udara Amerika Serikat, pesawat E-3 Sentry AWACS (Airborne Warning and Control System), dilaporkan hancur setelah menjadi target serangan rudal dan drone yang diluncurkan oleh pasukan Iran.

Sebuah simbol supremasi udara Amerika Serikat, pesawat E-3 Sentry AWACS (Airborne Warning and Control System), dilaporkan hancur setelah menjadi target serangan rudal dan drone yang diluncurkan oleh pasukan Iran.

Saudi Arabia – Sebuah simbol supremasi udara Amerika Serikat, pesawat E-3 Sentry AWACS (Airborne Warning and Control System), dilaporkan hancur setelah menjadi target serangan rudal dan drone yang diluncurkan oleh pasukan Iran. Foto-foto satelit dan dokumentasi lapangan dari Pangkalan Udara Prince Sultan (PSAB) di Arab Saudi menunjukkan pemandangan yang tak terduga: sesosok “raksasa langit” yang kini terbujur kaku di antara pasir gurun.

​Runtuhnya Menara Komando Terbang

​Dikenal sebagai “Jenderal di Langit,” E-3 Sentry bukan sekadar pesawat pengintai. Sejak dekade 70-an, pesawat berbasis Boeing 707 dengan ciri khas piringan radar (radome) di atas punggungnya ini berfungsi sebagai otak, mata, dan telinga bagi setiap operasi militer Amerika Serikat.

​Tanpa AWACS, jet tempur tercanggih sekalipun diibaratkan seperti “sopir taksi daring tanpa GPS.” Ia mampu memantau pergerakan udara dalam radius ratusan kilometer, mengoordinasikan serangan darat-laut-udara, dan memberikan data krusial bagi pilot yang sering kali tidak bisa melihat musuh secara langsung.

Baca Juga :  Perkuat Kerja Sama Pendidikan, Konsulat Singapura dan Ngee Ann Polytechnic Kunjungi Disdik Aceh

​Kronologi: Strategi “Saturation Attack”

​Laporan awal menunjukkan bahwa sistem pertahanan pangkalan yang biasanya berlapis berhasil ditembus melalui metode Saturation Attack (serangan jenuh). Dalam metode ini, Iran diduga meluncurkan gelombang besar kombinasi rudal balistik dan drone secara bersamaan.

​Banyaknya objek yang datang dari berbagai sudut membuat sistem pertahanan udara kewalahan—layaknya payung kecil yang dipaksa menahan hujan kerikil. Akibatnya, E-3 Sentry yang sedang terparkir menjadi sasaran empuk. Di udara ia adalah raja, namun di darat, pesawat senilai 270 juta dolar AS (sekitar Rp4 triliun) ini hanyalah target besar yang tak berdaya.

Baca Juga :  Serangan Udara Israel di Jalur Gaza 92 Warga Palestina Tewas

​Detail Kerusakan di Pangkalan Prince Sultan

​Visual dari lokasi kejadian menggambarkan kerusakan yang masif:

​Fuselaj Depan: Bagian moncong pesawat koyak terbuka, menyingkap rangka logam yang mencuat.

​Identitas: Ekor bertuliskan “U.S. Air Force” masih berdiri tegak di atas puing-puing, menjadi penanda bisu atas runtuhnya teknologi yang selama ini dianggap tak tersentuh.

​Investigasi: Petugas dengan pakaian pelindung putih tampak menyisir area reruntuhan, melakukan “autopsi” terhadap bangkai logam tersebut di tengah penjagaan ketat.

​Makna Strategis dan Pergeseran Wajah Perang

​Kehilangan satu unit AWACS adalah pukulan telak bagi Pentagon. Mengingat jumlah unit aktif yang hanya tinggal belasan, hancurnya satu pesawat berarti hilangnya satu simpul utama dalam jaringan komunikasi global AS.

Baca Juga :  Konflik AS-Iran: Klaim Kemenangan Washington Berbenturan dengan Realitas di Lapangan

​Meski militer AS memiliki cadangan sistem lewat satelit dan radar darat, peristiwa ini mengirimkan pesan filosofis dan taktis yang kuat ke seluruh dunia:

​Dominasi yang Terkikis: Teknologi yang dulu dianggap “tak tersentuh” kini bisa dijangkau oleh kekuatan regional seperti Iran melalui penggunaan drone dan rudal mandiri.

​Ironi Sang Pengintai: Pesawat yang dirancang untuk melihat segala ancaman di cakrawala ternyata gagal mendeteksi nasibnya sendiri saat berada di landasan.

​Peristiwa ini menandai babak baru dalam sejarah militer modern, di mana supremasi udara tidak lagi bersifat absolut dan bisa dinegosiasikan ulang melalui api serangan yang presisi.

Editor: redaksi

Share :

Baca Juga

Internasional

Brigade Al Qassam Tembakkan Peledak ke Tank Israel

Internasional

Serangan di Gaza Tewaskan 11 Orang, Gencatan Senjata Kian Rawan

Internasional

SBU Klaim Tewaskan Dua Agen Rusia Yang Terlibat Pembunuhan Kolonel

Internasional

Iran Tegas: Tak Minta Gencatan Senjata, Siap Hadapi AS dan Israel

Internasional

Iran Pasca – Serangan AS : Trump Sebut Kemungkinan Iran Mulai Lagi

Internasional

Iran Klaim Kendali Penuh Selat Hormuz di Tengah Ketegangan dengan AS

Internasional

Rusia Peringatkan Amerika Serikat Tidak Bantu Israel Melawan Iran

Internasional

Gubernur Aceh Kunjungi Peternakan Telur Terbesar di Henan – Tiongkok