Banda Aceh – Sebanyak 249 mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK) dari Lemdiklat Polri Angkatan ke-83/WPS resmi mengakhiri program Pengabdian Masyarakat (Dianmas) di sejumlah wilayah terdampak bencana di Provinsi Aceh. Apel pelepasan dipimpin langsung Wakapolda Aceh, Ari Wahyu Widodo, di Meuligoe Polda Aceh, Kota Banda Aceh, Minggu (1/3/2026).
Apel pelepasan tersebut berlangsung khidmat dan dihadiri jajaran pejabat utama Polda Aceh, para Perwira Pendamping (Paping), serta seluruh mahasiswa peserta Dianmas yang selama hampir tiga pekan telah menjalankan tugas kemanusiaan di 12 kabupaten/kota.
Dalam kesempatan itu, Wakapolda membacakan amanat Kapolda Aceh, Marzuki Ali Basyah, yang menegaskan bahwa kegiatan Pengabdian Masyarakat merupakan bagian penting dari proses pembentukan karakter calon perwira Kepolisian Negara Republik Indonesia.
Pengabdian Nyata di Tengah Masyarakat Pascabencana
Dalam amanat tersebut dijelaskan bahwa sejak 9 Februari 2026 para mahasiswa STIK telah diterjunkan langsung ke berbagai daerah terdampak bencana untuk membantu masyarakat. Kehadiran mereka tidak hanya sebagai bagian dari kurikulum pendidikan, tetapi juga sebagai bentuk nyata peran Polri dalam misi kemanusiaan.
Para mahasiswa dilatih menghadapi situasi riil di lapangan, mulai dari berinteraksi dengan masyarakat terdampak hingga membantu percepatan pemulihan kondisi sosial.
Selama pelaksanaan Dianmas, mahasiswa STIK terlibat dalam berbagai kegiatan, antara lain:
Penyaluran bantuan logistik kepada warga terdampak bencana
Pembersihan fasilitas umum dan rumah ibadah
Pelayanan kesehatan bersama tenaga medis setempat
Kegiatan trauma healing bagi anak-anak dan keluarga korban
Edukasi kamtibmas serta kegiatan sosial kemasyarakatan lainnya
Kegiatan tersebut dinilai mampu mempercepat pemulihan kondisi masyarakat, tidak hanya secara fisik tetapi juga secara psikologis.
Kapolda Aceh dalam amanatnya menekankan bahwa masyarakat pascabencana tidak hanya membutuhkan bantuan material, tetapi juga kehadiran aparat negara yang mampu memberikan rasa aman dan harapan.
“Mahasiswa STIK hadir sebagai wajah Polri yang humanis, solutif, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat,” demikian pesan yang disampaikan.
Laboratorium Kepemimpinan Calon Perwira Polri
Program Dianmas disebut sebagai laboratorium kepemimpinan lapangan bagi para mahasiswa. Mereka tidak hanya belajar teori kepolisian, tetapi juga langsung menghadapi dinamika sosial yang kompleks.
Para peserta dilatih untuk:
Mengasah empati dalam pelayanan masyarakat
Mengembangkan kemampuan komunikasi sosial
Menguatkan kepemimpinan situasional di lapangan
Menumbuhkan integritas dan profesionalisme sejak masa pendidikan
Kapolda Aceh juga mengingatkan bahwa tantangan tugas Polri ke depan akan semakin kompleks, sehingga pengalaman di Aceh diharapkan menjadi bekal penting dalam membentuk karakter perwira yang tangguh dan humanis.
Apresiasi atas Dedikasi dan Pengabdian
Dalam amanat tersebut juga disampaikan bahwa pada Rapat Pimpinan (Rapim) Polda Aceh tanggal 24 Februari 2026, pimpinan Polda Aceh telah memberikan penghargaan kepada para Paping dan perwakilan mahasiswa STIK sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi selama menjalankan tugas kemanusiaan.
Penghargaan itu menjadi simbol bahwa kerja keras, disiplin, dan pengabdian yang dilakukan para mahasiswa mendapat perhatian institusi.
Menutup amanatnya, Kapolda Aceh menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh mahasiswa STIK Angkatan ke-83/WPS atas kontribusi nyata dalam membantu masyarakat Aceh.
Ia berharap semangat pengabdian tersebut terus terjaga hingga para peserta resmi dilantik menjadi perwira Polri dan bertugas di berbagai daerah di Indonesia.
Program Dianmas ini juga menjadi bukti bahwa pendidikan kepolisian tidak hanya menekankan aspek akademik, tetapi juga pembentukan karakter pelayanan kepada masyarakat sebagai inti dari tugas kepolisian modern.(**)
Editor: Dahlan













