Home / Daerah

Jumat, 30 Januari 2026 - 11:19 WIB

Lubang Besar di Aceh Tengah Terbentuk Akibat Proses Geologi Jangka Panjang

Redaksi

Lubang besar di Desa Pondok Balik, Kecamatan Ketol, Aceh Tengah, terus melebar akibat erosi dan pergerakan tanah jangka panjang, mengancam infrastruktur serta permukiman di sekitarnya.(30/01/2026).

Lubang besar di Desa Pondok Balik, Kecamatan Ketol, Aceh Tengah, terus melebar akibat erosi dan pergerakan tanah jangka panjang, mengancam infrastruktur serta permukiman di sekitarnya.(30/01/2026).

Aceh Tengah — Lubang besar yang berada di Desa Pondok Balik, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, bukanlah fenomena yang muncul secara tiba-tiba. Pembentukannya merupakan hasil dari proses geologi yang berlangsung dalam waktu lama dan terus berkembang hingga saat ini, (30/01/2026).

Dari tahun ke tahun, dinding lubang mengalami pelebaran akibat runtuhan kecil yang terjadi berulang. Kondisi tersebut membuat lahan di sekitarnya semakin labil dan berisiko.

Berdasarkan informasi lapangan serta keterangan masyarakat setempat, pergerakan tanah di kawasan ini telah teridentifikasi sejak awal tahun 2000-an. Tanah amblas mulai terlihat lebih jelas sekitar tahun 2004 dan terus berkembang secara perlahan.

Hal ini menunjukkan bahwa lubang yang tampak saat ini merupakan akumulasi proses jangka panjang, bukan kejadian mendadak akibat satu peristiwa tertentu.

Bukan Sinkhole, Mekanismenya Berbeda

Fenomena ini kerap disalahartikan sebagai sinkhole. Padahal, meskipun secara visual menyerupai tipe cover-subsidence, mekanisme pembentukannya berbeda.

Sinkhole umumnya terbentuk akibat pelarutan batuan di bawah permukaan yang menciptakan rongga bawah tanah hingga akhirnya runtuh. Sementara itu, di lokasi Pondok Balik tidak ditemukan indikasi pelarutan batuan maupun rongga bawah tanah.

Baca Juga :  Korban Banjir Bireuen Bangun Gubuk Sisa Puing Demi Berteduh di Bulan Puasa

Proses yang dominan justru berupa erosi, longsoran tanah berpasir, serta pergerakan tanah perlahan.

Tanah Berpasir dan Curah Hujan Tinggi Jadi Pemicu

Material tanah di lokasi didominasi oleh tanah berpasir dengan daya ikat rendah. Kondisi ini membuat tanah mudah tergerus air dan rentan runtuh ketika jenuh akibat hujan.

Curah hujan tinggi mempercepat pelemahan struktur tanah, sementara aliran air permukaan serta sungai di sekitar lokasi terus menggerus bagian kaki lereng. Akibatnya, dinding lubang semakin melebar.

Dekat Sesar Takengon, Zona Tanah Lemah

Secara geologi, lokasi ini berada tidak jauh dari Sesar Takengon, khususnya segmen Lok Tawar, yang merupakan bagian dari Sesar Besar Sumatra.

Keberadaan sesar aktif menyebabkan zona di sekitarnya cenderung retak dan melemah dalam jangka panjang. Zona lemah ini menjadi jalur masuk air yang mempercepat pelapukan serta pergerakan tanah, terutama saat dipicu hujan lebat atau getaran gempa.

Baca Juga :  Pasca Banjir Bandang, Prajurit Kodam IM Bersama Warga Bersihkan Sekolah dan Bangun Jembatan Darurat di Nagan Raya

Fenomena ini mengingatkan pada proses pembentukan bentang alam seperti Ngarai Sianok di Bukittinggi, yang terbentuk akibat kombinasi aktivitas sesar dan erosi dalam waktu sangat lama.

Meski berbeda skala, prinsip geologinya serupa: keterlibatan struktur sesar, material rapuh, dan air sebagai agen utama erosi.

Ancaman Infrastruktur dan Rencana Pemindahan Tower SUTT

Perkembangan lubang ini mulai berdampak pada infrastruktur sekitar. Jalur Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) yang melintasi kawasan tersebut dibangun sekitar tahun 2015–2017, ketika lubang masih relatif jauh dari badan jalan.

Namun pada 2026, pembesaran lubang telah mendekati jalan dan mengancam keberadaan tower SUTT. Kondisi ini menjadi alasan utama dilakukannya rencana pemindahan tower demi menghindari risiko lebih besar.

Perlu Mitigasi Serius dan Penanganan Jangka Panjang

Baca Juga :  Wagub Fadhlullah Ikut Secara Virtual Peluncuran 80 Ribu Kopdes Merah Putih oleh Presiden Prabowo

Dari sisi kebencanaan, kondisi ini perlu mendapat perhatian serius. Tanah yang terus bergerak berpotensi memicu runtuhan susulan, terutama saat hujan lebat atau gempa.

Risiko tidak hanya terbatas pada area lubang, tetapi juga dapat meluas ke permukiman, jalan, serta infrastruktur penting.

Relokasi warga dalam radius sekitar 250 meter perlu dipertimbangkan sebagai langkah mitigasi utama. Selain itu, penataan ulang atau pemindahan aliran sungai yang terus menggerus area lubang menjadi langkah penting untuk memperlambat laju erosi.

Aktivitas perkebunan yang memanfaatkan aliran air di sekitar wilayah tersebut juga disarankan dihentikan sementara karena dapat mempercepat degradasi tanah dan memperbesar potensi runtuhan.

Seluruh penanganan harus didukung kajian geologi dan hidrologi yang komprehensif serta pemantauan jangka panjang.

Fenomena lubang besar di Aceh Tengah menjadi contoh nyata bagaimana interaksi struktur sesar aktif, jenis tanah, hujan, dan aliran air dapat membentuk perubahan bentang alam secara perlahan namun pasti.(**)

Editor: Redaksi

Share :

Baca Juga

Daerah

Kapolres Aceh Tamiang: Bencana Ini Adalah Takdir, Mari Bersinergi untuk Bangkit

Daerah

Wagub Acèh Fadhlullah Silaturahmi ke Dayah di Pidie

Daerah

Gubernur Muzakir Manaf: MTR Ajang Membentuk Karakter Islami Generasi Muda Aceh

Daerah

Bupati Al-Farlaky Dan Kapolda Sambut Kunjungan KSP, Persoalan Banjir Aceh Timur Dibawa ke Rapat Satgas Nasional

Aceh Besar

Wakili Pj Bupati, Kadisparpora Aceh Besar Hadiri Pembukaan Turnamen DJBC Boxing Cup I 2025

Daerah

Bunda PAUD Aceh Hadirkan Semangat Belajar di Pelosok Aceh Tengah

Daerah

Hari Jadi Humas Polri ke – 74, Polresta Gelar Donor Darah dan Pengobatan Gratis 

Daerah

5 Orang Tewas dan 1 Kritis Kesaksian Keluarga Korban Pembacokan di Aceh Tenggara