Jakarta – Harga emas dunia kembali mengalami tekanan pada awal pekan ini. Pada perdagangan Senin (2/2/2026) hingga pukul 06.32 WIB, harga emas di pasar spot tercatat melemah 2,90% ke posisi US$4.723,45 per troy ons.
Pelemahan ini melanjutkan tren penurunan yang sudah terjadi pada perdagangan sebelumnya. Pada Jumat (30/1/2026), harga emas dunia bahkan sempat mengalami koreksi tajam hingga turun 9,83% dan ditutup di level US$4.864,35 per troy ons.
Tak hanya itu, dalam perdagangan intraday, harga emas sempat menyentuh titik terendah di level US$4.680,53 per troy ons, menunjukkan tekanan jual yang cukup besar di pasar komoditas global.
Koreksi Setelah Reli Panjang
Penurunan harga emas ini dinilai sebagai bagian dari koreksi pasar yang memang sudah dinantikan setelah emas mencatat kenaikan signifikan dalam beberapa bulan terakhir. Para analis menyebut, reli panjang yang membawa harga emas ke level tinggi membuat aksi ambil untung (profit taking) sulit dihindari.
Suki Cooper, Kepala Riset Komoditas Global di Standard Chartered Bank, mengatakan bahwa pasar memang sudah waktunya mengalami koreksi.
“Pasar memang sudah waktunya mengalami koreksi dan pemicu di balik aksi jual tersebut bisa jadi merupakan kombinasi dari berbagai faktor, mulai dari pengumuman ketua The Fed hingga arus makro yang lebih luas,” ujarnya.
Faktor The Fed dan Sentimen Makro
Salah satu faktor utama yang menekan harga emas adalah pernyataan terbaru dari Ketua The Fed yang memunculkan spekulasi mengenai arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat.
Emas yang dikenal sebagai aset lindung nilai (safe haven) biasanya bergerak berlawanan dengan suku bunga. Ketika suku bunga diperkirakan tetap tinggi atau bahkan naik, investor cenderung beralih ke aset berbunga seperti obligasi, sehingga permintaan emas menurun.
Selain itu, kondisi makro ekonomi global yang dinamis, termasuk penguatan dolar AS serta perubahan arus investasi, turut memperbesar tekanan terhadap harga logam mulia tersebut.
Peluang dan Waspada Investor
Meski harga emas tengah terkoreksi, banyak pelaku pasar menilai kondisi ini bisa menjadi peluang akumulasi bagi investor jangka panjang. Namun demikian, volatilitas diperkirakan masih akan berlanjut dalam beberapa hari ke depan, seiring pasar menunggu sinyal lanjutan dari bank sentral AS serta data ekonomi global terbaru.
Harga emas dunia kini menjadi sorotan karena pergerakannya yang tajam dalam waktu singkat, mencerminkan betapa sensitifnya pasar terhadap perubahan sentimen global.(**)
Editor: Dahlan









