New York – Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa menggelar sidang darurat pada Sabtu (1/3/2026) menyusul meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah setelah serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap fasilitas strategis Iran yang dilaporkan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.
Sidang darurat tersebut berlangsung dalam suasana tegang karena serangan yang dimulai pada 28 Februari 2026 itu dinilai berpotensi memicu konflik regional berskala besar. Sejumlah negara anggota menyerukan langkah cepat untuk menahan eskalasi dan mencegah meluasnya konfrontasi militer di kawasan Timur Tengah.
Dalam forum resmi itu, Duta Besar Iran untuk PBB, Amir Saeid Iravani, melontarkan kecaman keras terhadap operasi militer yang dilakukan Washington dan Tel Aviv. Ia menegaskan bahwa serangan tersebut merupakan pelanggaran serius terhadap kedaulatan negaranya serta hukum internasional.
Menurut Iravani, fasilitas yang diserang merupakan bagian dari infrastruktur strategis nasional Iran, dan tindakan militer tersebut telah menimbulkan korban jiwa serta meningkatkan ketegangan geopolitik secara drastis.
“Serangan ini jelas melanggar kedaulatan kami dan menimbulkan ancaman besar bagi perdamaian regional. Iran berhak mempertahankan diri sesuai Piagam PBB,” tegasnya dalam sidang.
Di sisi lain, perwakilan Amerika Serikat dan Israel menyatakan bahwa operasi militer dilakukan sebagai langkah preventif untuk menghentikan ancaman program nuklir Iran yang dinilai semakin meningkat dalam beberapa bulan terakhir. Mereka juga menegaskan bahwa tindakan tersebut bertujuan melindungi keamanan global serta sekutu di kawasan.
Ketegangan semakin meningkat setelah Iran dilaporkan meluncurkan serangan balasan berupa rudal ke sejumlah target di wilayah Israel serta pangkalan militer Amerika Serikat di Timur Tengah. Situasi ini memicu kekhawatiran komunitas internasional terhadap kemungkinan terjadinya konflik terbuka antarnegara.
Sidang Dewan Keamanan berlangsung selama beberapa jam dengan berbagai pandangan dari negara anggota. Sejumlah negara mendorong resolusi penghentian serangan dan gencatan senjata, namun forum tersebut berakhir tanpa menghasilkan keputusan resmi akibat perbedaan posisi politik antaranggota.
Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, António Guterres, dalam pernyataannya menekankan pentingnya semua pihak menahan diri dan menghormati hukum internasional, terutama terkait perlindungan warga sipil.
Guterres juga mengingatkan bahwa konflik bersenjata yang meluas di Timur Tengah dapat berdampak serius terhadap stabilitas global, termasuk keamanan energi dan ekonomi dunia.
Pengamat hubungan internasional menilai, perkembangan situasi ini akan sangat bergantung pada langkah diplomatik lanjutan dalam beberapa hari ke depan. Jika eskalasi tidak segera dikendalikan, konflik berpotensi melibatkan lebih banyak negara di kawasan.
Sementara itu, masyarakat internasional terus memantau perkembangan situasi dengan kekhawatiran meningkatnya ketidakpastian geopolitik global.
Sumber: Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa, New York(**)
Editor: Dahlan













