Home / Ekbis

Rabu, 4 Maret 2026 - 13:56 WIB

Koperasi Tambang Rakyat dan Polemik Kewenangan Aceh

Redaksi

Aktivitas masyarakat di wilayah pertambangan rakyat Aceh yang diharapkan dapat dikelola secara legal melalui skema koperasi demi mendorong kesejahteraan dan keberlanjutan lingkungan.(4/3/2026)

Aktivitas masyarakat di wilayah pertambangan rakyat Aceh yang diharapkan dapat dikelola secara legal melalui skema koperasi demi mendorong kesejahteraan dan keberlanjutan lingkungan.(4/3/2026)

Penulis: Sri Radjasa (Pemerhati Intelijen)

Opini – Wacana mendorong koperasi dan UMKM masuk ke sektor industri pertambangan kerap dipandang sinis oleh kalangan tertentu. Industri tambang disebut sebagai highly regulated industry dengan standar ketat, mulai dari kekuatan finansial, kapasitas teknis, kewajiban lingkungan seperti AMDAL dan dana jaminan reklamasi, hingga penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).

Namun, muncul pertanyaan mendasar: apakah seluruh operasi pertambangan skala besar benar-benar telah memenuhi seluruh prasyarat tersebut? Fakta di berbagai daerah menunjukkan aktivitas tambang kerap meninggalkan persoalan lingkungan dan belum sepenuhnya menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat sekitar.

Indonesia dikenal sebagai negara kaya sumber daya alam. Namun, dalam pandangan sebagian kalangan, kekayaan tersebut belum sepenuhnya berbanding lurus dengan tingkat kesejahteraan rakyat. Kritik pun muncul bahwa akses pengelolaan sumber daya alam lebih banyak dinikmati pemilik modal besar dibandingkan masyarakat lokal.

Baca Juga :  Indonesia Bakal Impor Minyak Mentah dan LPG dari AS, Bukan BBM

Kewenangan Aceh di Sektor Minerba

Sebagai daerah dengan status kekhususan berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh, Aceh memiliki kewenangan mengelola sumber daya alamnya sebagaimana diatur dalam Pasal 156. Aturan tersebut menegaskan bahwa Pemerintah Aceh dan pemerintah kabupaten/kota berwenang mengelola sumber daya alam di darat dan laut sesuai kewenangannya.

Namun, pada 11 Desember 2020, kewenangan pelayanan perizinan mineral dan batubara beralih ke pemerintah pusat melalui surat Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM. Kebijakan ini menuai kritik dari sejumlah pihak di Aceh yang menilai langkah tersebut mengurangi ruang otonomi daerah dalam pengelolaan sektor pertambangan.

Baca Juga :  Bagikan Dividen Rp372,5 Miliar, Solusi Bangun Indonesia Buktikan Resiliensi di Tengah Tantangan Industri

Dampaknya, berbagai permohonan izin pertambangan rakyat yang diajukan dari Aceh belum membuahkan hasil. Kondisi ini dinilai menghambat upaya masyarakat dalam mengelola potensi tambang secara legal dan terorganisir melalui koperasi.

Tambang Rakyat dan Isu Lingkungan

Tambang rakyat kerap dikaitkan dengan praktik ilegal dan kerusakan lingkungan. Namun, pendukung model koperasi tambang rakyat berpendapat bahwa dengan legalitas, pengawasan, serta dukungan teknologi ramah lingkungan, aktivitas pertambangan skala kecil dapat dikelola lebih bertanggung jawab.

Di Aceh, terdapat gagasan pengembangan pabrik pengolahan bahan baku tambang berbasis hilirisasi yang diklaim lebih efisien dan ramah lingkungan tanpa ketergantungan pada smelter berskala besar. Kolaborasi antara pabrik pengolahan dan koperasi tambang rakyat disebut mampu mendorong ekonomi desa dan meningkatkan pendapatan masyarakat secara signifikan.

Baca Juga :  Harga Gabah Melejit di Aceh Besar, Kini Capai Rp 8.200 Per Kg

Harapan dan Seruan Evaluasi

Sebagian kalangan mendesak pemerintah pusat dan pemerintah daerah untuk meninjau kembali kebijakan perizinan serta memberi ruang legal bagi koperasi tambang rakyat. Mereka menilai penguatan ekonomi kerakyatan di sektor pertambangan dapat menjadi bagian dari upaya pemerataan kesejahteraan, selama tetap berada dalam koridor hukum dan perlindungan lingkungan.

Bagi masyarakat Aceh, perdamaian bukan hanya tentang berhentinya konflik bersenjata, tetapi juga tentang keadilan ekonomi dan pengelolaan sumber daya alam yang berpihak pada rakyat.(**)

Editor: Dahlan

Share :

Baca Juga

Daerah

DPMG Aceh Dorong BUMG Optimalkan Dana Desa Capai Swasembada Pangan

Berita

Penunjukan Pelaksana Tugas Direktur Utama Bank Aceh Masih dalam Tahap Kajian

Ekbis

Harga Emas di Lhokseumawe Naik Rp 51.000 Per Mayam, Transaksi Didominasi Warga yang Menjual

Ekbis

Bank Aceh Syariah x PosSaku: Kolaborasi Digital yang Siap Naikan Level UMKM Aceh

Ekbis

PT Solusi Bangun Andalas Raih Empat Penghargaan “Perempuan Berbakti 2025” dari CFCD

Ekbis

Gelar RUPST, BSI Tetapkan Dividen Total Rp1,05 Triliun dan Angkat Anggoro Eko Cahyo Sebagai Dirut

Ekbis

BSI Klaim Aset di Aceh Tembus Rp 24 Triliun,Ini Target Selanjutnya

Ekbis

BSI-ANTAM Gas Pol Industri Bullion, Dorong Ekosistem Emas Nasional Naik Kelas