Home / Ekonomi

Selasa, 14 April 2026 - 13:23 WIB

Bank Indonesia Terus Jaga Stabilitas Nilai Tukar Rupiah di Tengah Volatilitas Global

REDAKSI

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, saat memberikan keynote speech dalam seminar di Jakarta (13/4/2026).

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, saat memberikan keynote speech dalam seminar di Jakarta (13/4/2026).

Jakarta — Bank Indonesia terus mengoptimalkan bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Eskalasi konflik di Timur Tengah turut mendorong tekanan pada pasar keuangan, pergerakan harga komoditas, dan perdagangan internasional. Kondisi tersebut dinilai sebagai situasi yang tidak biasa, sehingga memerlukan penguatan respons kebijakan yang konsisten, pre-emptive, dan terukur guna menjaga ketahanan ekonomi domestik. Hal tersebut disampaikan oleh Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, saat menyampaikan keynote speech pada seminar bertajuk “Ketahanan Ekonomi Indonesia dalam Menghadapi Volatilitas Nilai Tukar Global”, di Jakarta (13/4).

Destry menegaskan bahwa dinamika global mendorong meningkatnya tekanan di pasar keuangan dan nilai tukar. Di tengah kondisi ini, Bank Indonesia mengoptimalkan seluruh instrumen moneter yang dimiliki secara terukur, kontinyu, dan timely dengan memperkuat intervensi di pasar off-shore melalui Non-Deliverable Forward (NDF) serta intervensi di pasar domestik melalui pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. Bauran kebijakan tersebut didukung oleh kecukupan cadangan devisa Indonesia. Posisi cadangan devisa pada akhir Maret 2026 tercatat sebesar USD148,3 miliar, setara dengan pembiayaan 5,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah, sehingga memberikan ruang yang memadai bagi Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah serta ketahanan sektor eksternal.

Baca Juga :  Harga Emas di Aceh Tembus Rp8,5 Juta per Mayam, Warga Mulai Tahan Beli

Sejalan dengan langkah tersebut, Chief Economist BCA, David Sumual, menyampaikan bahwa stabilitas Rupiah tidak hanya dilihat dari level nilai tukar, tetapi juga dari stabilitas volatilitasnya. “Bagi pasar, yang menjadi perhatian utama bukan hanya level nilai tukar, tetapi juga stabilitas volatilitasnya. Stabilitas tersebut menjadi faktor penting dalam menjaga keyakinan investor dan pelaku usaha,” ujar David. Sebagai bagian dari penguatan stabilitas, Bank Indonesia juga memperkuat tata kelola dalam transaksi valas domestik dengan mewajibkan transaksi valas di atas USD50 ribu untuk disertai dengan dokumen underlying yang lengkap. Langkah tersebut ditempuh untuk memastikan transaksi yang dilakukan mendukung kelancaran aktivitas ekonomi.

Sejalan dengan langkah stabilisasi Bank Indonesia, Direktur Strategi Stabilisasi Ekonomi Direktorat Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal (DJSEF) Kementerian Keuangan Noor Faisal Achmad, menegaskan bahwa Pemerintah terus menjaga kepercayaan pasar melalui pengelolaan APBN yang prudent dan terukur. Sementara itu, Direktur Eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal, menekankan pentingnya stabilitas nilai tukar untuk meredam risiko inflasi dari potensi kenaikan harga energi dan pangan, serta mengapresiasi langkah stabilisasi Bank Indonesia yang dilakukan secara terukur dan sinergi dengan Pemerintah.

Baca Juga :  FKIJK Aceh Perkuat Kepedulian Sosial Melalui Renovasi Masjid Syuhada Kuala Simpang

Bank Indonesia juga memastikan kecukupan likuiditas Rupiah tetap terjaga untuk mendukung kegiatan ekonomi. Pertumbuhan uang primer (M0) tetap tinggi sebagai indikasi kebijakan ekspansi likuiditas tetap berlangsung. Kebijakan tersebut didukung melalui penguatan operasi moneter yang ekspansif.

Dalam menjaga stabilitas pasar keuangan, Bank Indonesia memperkuat koordinasi dengan pemerintah, termasuk melalui langkah pembelian Surat Berharga Negara (SBN) saat dibutuhkan serta penjualan SBN pada waktu yang tepat sesuai kondisi pasar. Daya tarik instrumen domestik juga tetap dipertahankan agar aliran modal masuk tetap terjaga.

Baca Juga :  BI: Ekonomi Aceh Mulai Bangkit Usai Tekanan Sepanjang 2025

Guna mengurangi ketergantungan terhadap Dolar AS dalam transaksi bilateral, Bank Indonesia terus memperluas implementasi Local Currency Transaction (LCT) dengan berbagai negara mitra. Destry menyampaikan bahwa nilai transaksi LCT pada akhir 2025 mencapai USD25,72 miliar atau meningkat dua kali lipat dibandingkan tahun 2024.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia, Erwin Gunawan Hutapea, menegaskan bahwa Bank Indonesia memastikan mekanisme pasar berjalan efektif, serta menjaga ketersediaan likuiditas untuk mendukung kegiatan ekonomi. Strategi operasi moneter terus diperkuat, termasuk melalui lelang Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dengan kalibrasi imbal hasil secara bertahap agar tetap kompetitif dan menarik bagi investor.

Bank Indonesia berkomitmen untuk terus menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah, memperkuat daya tarik aset domestik, serta memastikan kecukupan likuiditas guna mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Koordinasi dengan Pemerintah dan komunikasi kebijakan dengan mitra kerja juga menjadi langkah penting yang akan terus dijalankan untuk menjaga ekspektasi serta memperkuat ketahanan ekonomi nasional.

Editor: Redaksi

Share :

Baca Juga

Ekonomi

Milad ke-5, BSI Aceh Gelar “Langkah Emas” Dorong Generasi Sehat dan Mandiri Finansial

Ekonomi

Mualem Panen Lobster di Keramba Nelayan Ulee Lheue

Ekonomi

Harga Emas di Lhokseumawe Stabil, Capai Rp8,15 Juta per Mayam

Ekonomi

BSI Perkuat BYOND dan E-Channel, Siap Hadapi Lonjakan Transaksi Lebaran

Daerah

Investor Malaysia Tinjau Sabang, Rencana Bangun Hub Bunkering Internasional

Daerah

Pedagang Curhat ke Wagub Fadhlullah: Harga Bergerak Naik, Daya Beli Berkurang

Ekonomi

Enam Tahun Terakhir, Angka Pernikahan di Aceh Terus Menurun

Ekonomi

WTP dan Digitalisasi Perkuat Kepercayaan Publik pada Bank Aceh Syariah