Jakarta – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan cuaca di sebagian besar wilayah Indonesia berawan tebal pada Senin awal pekan (21/7/2025).
Prakirawan BMKG Idhan Abu bakar menyampaikan, diawali dari Pulau Sumatera, cuaca Indonesia diprakirakan berawan tebal di Kota Padang, Pekanbaru, Banda Aceh, dan Medan.
“Hujan ringan berpotensi terjadi di Kota Tanjung Pinang,” ujar Idhan, mengutip Antara, Senin (21/7/2025).
Kemudian, lanjut dia, masih di Pulau Sumatera, cuaca diprakirakan cerah berawan untuk wilayah Bengkulu, Palembang, Pangkal Pinang, dan Bandar Lampung. Kota Jambi diprediksi berawan.
“Beralih ke Pulau Jawa, cuaca diprakirakan cerah berawan di Kota Semarang dan Yogyakarta, berawan di Kota Serang, serta berawan tebal di Jakarta dan Surabaya,” ucap Idhan.
Lalu ke wilayah Bali dan Nusa Tenggara, sambung dia, cuaca diprediksi berawan di Kota Denpasar, serta berawan tebal di Kota Mataram dan Kupang.
“Selanjutnya bergeser ke Pulau Kalimantan, cuaca diprakirakan cerah berawan di Banjarmasin, serta berawan di Kota Pontianak, Palangkaraya, dan Samarinda,” papar Idhan.
“Waspadai hujan petir yang dapat terjadi di Tanjung Selor,” sambung dia.
Kemudian untuk Pulau Sulawesi, lanjut Idhan, cuaca diprakirakan udara kabur untuk wilayah Palu, dan berawan di Kota Mamuju.
“Kota Manado, Gorontalo, Makassar, dan Kendari diprediksi berawan tebal,” tutur dia.
Bergerak ke wilayah Indonesia bagian timur, cuaca diprakirakan asap atau kabut untuk wilayah Jayapura dan berawan tebal untuk Kota Ternate.
“Hujan ringan berpotensi terjadi di Kota Ambon, Sorong, Manokwari, Nabire, Jayawijaya, dan Merauke,” papar Idhan.
Selain itu, menurut Idhan, BMKG juga memperingatkan potensi ketinggian gelombang 2,5 hingga 4 meter di Samudera Hindia barat Aceh, Samudera Hindia barat Kepulauan Mentawai hingga Lampung, Selat Sunda bagian Selatan, dan Samudera Hindia Selatan Banten hingga Nusa Tenggara Timur (NTT).
“Masyarakat juga diminta waspada potensi banjir rob dapat terjadi di wilayah pesisir Kepulauan Riau, Sumatra Barat, Banten, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, NTT, dan Maluku,” jelas Idhan.
Sebelumnya, Badan Meteorologi Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan wilayah Jakarta Barat, Jakarta Selatan, Jakarta Pusat, Jakarta Timur, dan Jakarta Utara akan berawan tebal pada Senin pagi (21/7/2025).
“Sementara, Kepulauan Seribu akan hujan ringan. Kemudian pada siang hari, wilayah Jakarta akan cerah berawan,” ujar BMKG, seperti dikutip dari Antara, Senin (21/7/2025).
Beranjak pada malam hari, lanjut BMKG, cuaca di wilayah Jakarta Barat, Jakarta Pusat, Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu diprakirakan akan kembali cerah berawan.
Sementara Jakarta Selatan dan Jakarta Timur diprediksi akan berawan pada Senin (21/7/2025) awal pekan ini. Adapun suhu udara berkisar antara 24 derajat Celsius sampai dengan 33 derajat Celsius dengan kecepatan angin berkisar 2 hingga 17 kilometer per jam.
Sebelumnya, kualitas udara di Jakarta, terburuk kelima di dunia, pada Senin pagi (21/7/2025). Hal itu berdasarkan data situs pemantau kualitas udara IQAir, Senin (21/7/2025).
Pada pukul 06.20 WIB, indeks kualitas udara (air quality index/AQI) di Jakarta berada diangka 138 atau masuk kategori tidak sehat dengan angka partikel halus (particulate matter/PM) 2,5.
“Adapun kota dengan kualitas udara terburuk di dunia adalah Kinshasa, Kongo dengan indeks kualitas udara di angka 192,” ujar IQAir, Senin (21/7/2025).
Kemudian di urutan kedua Dubai, Uni Emirat Arab dengan indeks kualitas udara di angka 152 dan di urutan ketiga Kairo, Mesir dengan indeks kualitas udara di angka 139.
Sebelumnya, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jakarta melalui Dinas Lingkungan Hidup terus memperkuat upaya pengendalian pencemaran udara dengan strategi lintas sektoral dan daerah.
Langkah ini diambil guna meningkatkan kualitas udara Jakarta, yang kerap memburuk akibat berbagai faktor, baik lokal maupun regional.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Jakarta, Asep Kuswanto, menjelaskan bahwa penurunan kualitas udara tidak hanya disebabkan oleh aktivitas di dalam wilayah Jakarta, tetapi juga dipengaruhi oleh kondisi meteorologi dan kontribusi polusi dari wilayah aglomerasi sekitarnya seperti Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, dan Cianjur.
“Sumber pencemar udara Jakarta dipengaruhi oleh aktivitas manusia dan faktor meteorologi, seperti angin, suhu, serta cuaca. Oleh karena itu, kerja sama lintas wilayah menjadi sangat penting,” kata dia dalam keterangannya, Selasa 15 Juli 2025.
Berdasarkan hasil inventarisasi emisi, Asep menyebut sektor transportasi dan industri sebagai dua sumber utama pencemar udara di Jakarta. Karena itu, Pemprov Jakarta berfokus pada pengendalian emisi dari kedua sektor tersebut.
“Langkah-langkah strategis yang telah kami lakukan, antara lain mendorong penggunaan transportasi umum massal, mewajibkan uji emisi kendaraan bermotor disertai penegakan hukum terutama untuk kendaraan berat, hingga pengawasan ketat terhadap industri seperti melakukan pengukuran emisi menerus pada industri yang berpotensi melakukan pencemaran,” ungkap dia.
Asep menuturkan, Pemprov Jakarta telah berkoordinasi dengan pemerintah pusat, termasuk Kementerian Lingkungan Hidup dan Kementerian Dalam Negeri, untuk memfasilitasi koordinasi antarwilayah.
“Upaya penegakan hukum di daerah aglomerasi Jakarta juga dilakukan intensif oleh Menteri Lingkungan Hidup. Kami sangat mengapresiasi komitmen Bapak Menteri tersebut,” tutur dia.
Selain itu, menurut Asep, keterlibatan mitra atau donor internasional juga terbuka lebar untuk mendukung program pengendalian pencemaran udara secara kolaboratif.
Langkah strategis ini menunjukkan keseriusan Pemprov Jakarta dalam menjawab tantangan polusi udara yang bersifat lintas batas.
“Upaya dan langkah ini diharapkan dapat menghasilkan dampak yang nyata bagi kesehatan masyarakat serta keberlanjutan lingkungan Jakarta,” kata Asep.
Editor: Redaksi