Home / Ekonomi

Senin, 2 Februari 2026 - 08:56 WIB

Harga Emas Dunia Melemah, Turun ke US$4.723 per Troy Ons

Redaksi

Harga emas dunia kembali melemah pada awal pekan ini, melanjutkan tren koreksi setelah tekanan jual besar di pasar global.(2/2/2026).

Harga emas dunia kembali melemah pada awal pekan ini, melanjutkan tren koreksi setelah tekanan jual besar di pasar global.(2/2/2026).

Jakarta – Harga emas dunia kembali mengalami tekanan pada awal pekan ini. Pada perdagangan Senin (2/2/2026) hingga pukul 06.32 WIB, harga emas di pasar spot tercatat melemah 2,90% ke posisi US$4.723,45 per troy ons.

Pelemahan ini melanjutkan tren penurunan yang sudah terjadi pada perdagangan sebelumnya. Pada Jumat (30/1/2026), harga emas dunia bahkan sempat mengalami koreksi tajam hingga turun 9,83% dan ditutup di level US$4.864,35 per troy ons.

Tak hanya itu, dalam perdagangan intraday, harga emas sempat menyentuh titik terendah di level US$4.680,53 per troy ons, menunjukkan tekanan jual yang cukup besar di pasar komoditas global.

Baca Juga :  Wagub Harap Koalisi Kemitraan Kelapa Sawit Berkelanjutan Bantu Tingkatkan Ekonomi Aceh 

Koreksi Setelah Reli Panjang

Penurunan harga emas ini dinilai sebagai bagian dari koreksi pasar yang memang sudah dinantikan setelah emas mencatat kenaikan signifikan dalam beberapa bulan terakhir. Para analis menyebut, reli panjang yang membawa harga emas ke level tinggi membuat aksi ambil untung (profit taking) sulit dihindari.

Suki Cooper, Kepala Riset Komoditas Global di Standard Chartered Bank, mengatakan bahwa pasar memang sudah waktunya mengalami koreksi.

“Pasar memang sudah waktunya mengalami koreksi dan pemicu di balik aksi jual tersebut bisa jadi merupakan kombinasi dari berbagai faktor, mulai dari pengumuman ketua The Fed hingga arus makro yang lebih luas,” ujarnya.

Baca Juga :  DAHSYAT! Daun Biasa Pulau Weh Disulap Jadi 'Emas Hijau' Bernilai Jutaan: Kebangkitan Ekonomi Perempuan Sabang di Tengah Pandemi

Faktor The Fed dan Sentimen Makro

Salah satu faktor utama yang menekan harga emas adalah pernyataan terbaru dari Ketua The Fed yang memunculkan spekulasi mengenai arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat.

Emas yang dikenal sebagai aset lindung nilai (safe haven) biasanya bergerak berlawanan dengan suku bunga. Ketika suku bunga diperkirakan tetap tinggi atau bahkan naik, investor cenderung beralih ke aset berbunga seperti obligasi, sehingga permintaan emas menurun.

Selain itu, kondisi makro ekonomi global yang dinamis, termasuk penguatan dolar AS serta perubahan arus investasi, turut memperbesar tekanan terhadap harga logam mulia tersebut.

Baca Juga :  Bank Indonesia Rilis LPI 2025, Ekonomi Nasional Tetap Tangguh di Tengah Gejolak Global

Peluang dan Waspada Investor

Meski harga emas tengah terkoreksi, banyak pelaku pasar menilai kondisi ini bisa menjadi peluang akumulasi bagi investor jangka panjang. Namun demikian, volatilitas diperkirakan masih akan berlanjut dalam beberapa hari ke depan, seiring pasar menunggu sinyal lanjutan dari bank sentral AS serta data ekonomi global terbaru.

Harga emas dunia kini menjadi sorotan karena pergerakannya yang tajam dalam waktu singkat, mencerminkan betapa sensitifnya pasar terhadap perubahan sentimen global.(**)

Editor: Dahlan

Share :

Baca Juga

Daerah

Mualem Dukung Petani Cabai dan Nilam untuk Kendalikan Inflasi dan Tingkatkan Ekonomi

Berita

Presiden Prabowo Lepas Ekspor Perdana 1.200 Ton Jagung ke Malaysia

Ekonomi

Waspada Gebyar Undian Berhadiah, Bank Aceh Imbau Nasabah Jaga Kerahasiaan Data Pribadi dan Abaikan Pesan Hoax

Ekonomi

Genjot Produksi Pertanian, Wagub Aceh Serahkan Alsintan untuk 3 Kabupaten 

Ekonomi

Enam Tahun Terakhir, Angka Pernikahan di Aceh Terus Menurun

Ekonomi

Bank Indonesia Rilis LPI 2025, Ekonomi Nasional Tetap Tangguh di Tengah Gejolak Global

Ekonomi

Ketua PKK Aceh Dukung Pembentukan Koperasi Desa di Gampong Crueng, Pidie

Ekonomi

Mualem dan DPRA Bahas Rancangan APBA 2026