Jakarta -Harga emas dunia mengalami koreksi setelah sebelumnya mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah. Penurunan ini terjadi seiring meredanya ketegangan geopolitik menyusul pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang melunak terkait isu Greenland.
Berdasarkan laporan Reuters, harga emas spot turun ke level USD 4.778,51 per ons pada Rabu (21/1/2026) sekitar pukul 15.10 waktu setempat. Angka tersebut melemah dari rekor tertingginya di awal sesi perdagangan yang sempat menembus USD 4.887,82 per ons.
Meski demikian, pergerakan berbeda justru terlihat pada kontrak berjangka emas Amerika Serikat. Kontrak emas untuk pengiriman Februari ditutup menguat 1,5 persen ke level USD 4.837,50 per ons, mencerminkan masih kuatnya minat investor terhadap aset lindung nilai di tengah ketidakpastian global.
Tekanan terhadap harga emas muncul setelah Presiden Trump menyatakan telah mencapai garis besar kesepakatan dengan NATO mengenai masa depan Greenland. Trump juga menarik kembali ancamannya untuk mengenakan tarif terhadap negara-negara Eropa yang mendukung Denmark dalam isu tersebut.
Sikap yang lebih lunak ini dinilai pasar sebagai sinyal meredanya risiko geopolitik, sehingga mendorong penguatan pasar saham global dan mengurangi daya tarik emas sebagai aset safe haven.
“Pengumuman terkait tarif Eropa mendorong pasar saham naik, yang pada akhirnya menghapus sebagian besar penguatan emas dan memberi tekanan pada logam mulia,” ujar Senior Market Strategist RJO Futures, Bob Haberkorn.
Tak hanya emas, harga perak juga mengalami tekanan cukup dalam. Harga perak spot tercatat turun 3,6 persen ke level USD 91,17 per ons. Padahal sehari sebelumnya, perak sempat mencetak rekor tertinggi di level USD 95,87 per ons pada Selasa (20/1/2026).
Analis Komoditas ANZ, Soni Kumari, menilai pergerakan harga perak saat ini masih memiliki momentum kuat, meskipun disertai risiko volatilitas yang tinggi.
“Kenaikan harga perak ke level tiga digit cukup mungkin terjadi mengingat momentum harga saat ini. Namun, pergerakannya tidak akan berjalan satu arah. Koreksi harga bisa saja terjadi dan volatilitas berpotensi meningkat,” jelasnya.
Pelaku pasar kini mencermati perkembangan kebijakan ekonomi dan geopolitik global, khususnya arah kebijakan perdagangan AS, yang dinilai akan terus memengaruhi pergerakan harga emas dan logam mulia dalam waktu dekat.(**)
Editor: Redaksi









