Teheran – Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah militer Iran dilaporkan mengaktifkan sistem komunikasi taktis canggih Sepehr-110. Sistem ini disebut sebagai “jaringan saraf” komando modern milik Garda Revolusi Iran yang dirancang untuk menjaga stabilitas komunikasi militer di tengah ancaman perang elektronik dan serangan siber.
Informasi tersebut pertama kali beredar melalui laporan intelijen Barat yang menyebutkan bahwa pengaktifan sistem dilakukan secara penuh sejak Jumat pagi waktu setempat di Teheran. Langkah ini dinilai sebagai sinyal kuat bahwa Iran sedang meningkatkan kesiapsiagaan militernya menghadapi kemungkinan eskalasi konflik regional, (20/2/2026).
Sistem Komando Anti-Siber dan Anti-Gangguan
Sepehr-110 dikenal sebagai sistem komunikasi taktis berbasis jaringan terenkripsi berlapis yang dirancang untuk memastikan koordinasi militer tetap berjalan meskipun terjadi gangguan sinyal, serangan elektronik, maupun pemutusan jaringan satelit.
Dalam doktrin pertahanan Iran, sistem ini berfungsi sebagai “otak penghubung” antara unit darat, laut, udara, dan pasukan rudal. Teknologi tersebut memungkinkan komando militer tetap aktif secara real-time, bahkan dalam skenario perang modern yang mengandalkan dominasi siber.
Sumber analis pertahanan di London menyebutkan bahwa aktivasi penuh jaringan tersebut biasanya hanya dilakukan dalam kondisi ancaman tinggi.
“Ini bukan sekadar langkah simbolik. Ketika sistem seperti ini diaktifkan, artinya struktur komando sedang diamankan untuk skenario konflik nyata,” ujar analis tersebut.
Penempatan di Area Strategis
Menurut laporan yang beredar, perangkat Sepehr-110 telah ditempatkan secara masif di sejumlah wilayah strategis, terutama di sepanjang pesisir Teluk Persia serta fasilitas nuklir utama Iran.
Kawasan tersebut selama ini menjadi titik sensitif karena jalur energi global dan aktivitas militer internasional yang cukup tinggi. Penguatan komunikasi militer di area ini memperlihatkan bahwa Iran berusaha memastikan kesiapan respons cepat apabila terjadi serangan.
Beberapa pengamat menilai langkah ini juga berkaitan dengan meningkatnya ketegangan regional dalam beberapa bulan terakhir, termasuk aktivitas patroli militer dan latihan gabungan yang terjadi di sekitar kawasan Teluk.
Indikator “Full Alert” Militer
Dalam praktik militer modern, aktivasi jaringan komunikasi taktis berlapis sering dianggap sebagai indikator status “Full Alert” atau siaga penuh. Kondisi ini berarti seluruh unit tempur berada dalam kesiapan operasional maksimal, termasuk kesiapan mobilisasi pasukan dan sistem pertahanan udara.
Pengamat keamanan regional menilai Iran sedang mengantisipasi kemungkinan perang elektronik terlebih dahulu sebelum konflik fisik terjadi. Dalam pola konflik modern, serangan siber kerap menjadi fase awal untuk melumpuhkan sistem komando lawan.
Selain itu, penguatan sistem komunikasi juga menunjukkan bahwa Iran ingin memastikan seluruh jalur koordinasi tetap aman dari penyadapan maupun sabotase digital.
Dampak terhadap Stabilitas Kawasan
Langkah Iran ini langsung memicu peningkatan kewaspadaan di berbagai negara kawasan. Aktivasi sistem komando tingkat tinggi seringkali diikuti dengan peningkatan patroli militer, penguatan pertahanan udara, serta pemantauan satelit yang lebih intensif.
Para analis menilai situasi saat ini masih berada pada fase “deterrence signaling” atau saling menunjukkan kesiapan kekuatan. Namun, risiko salah tafsir atau eskalasi cepat tetap menjadi perhatian utama komunitas internasional.
Sejumlah pengamat keamanan menegaskan bahwa konflik modern tidak lagi hanya berlangsung di darat, laut, atau udara, tetapi juga di ruang digital yang tidak terlihat.(**)
Editor: Dahlan









