Aceh Tengah – Akses transportasi yang menghubungkan Kabupaten Aceh Tengah dan Kabupaten Pidie kembali lumpuh total pada Rabu (22/4/2026). Longsor besar terjadi di kawasan Km 37 Gunong Pijut sekitar pukul 11.30 WIB, tepat di titik perbatasan antara Pameu (Aceh Tengah) dan Geumpang (Pidie).
Berdasarkan informasi warga dan rekaman video yang beredar di media sosial, longsor dipicu oleh runtuhnya material dari tebing curam di kawasan Gunong Pijut. Material longsoran meliputi:
Bongkahan batu berukuran besar.
Timbunan tanah.
Pepohonan yang terseret dari lereng.
Besarnya volume material menyebabkan badan jalan tertutup sepenuhnya, sehingga kendaraan roda dua maupun roda empat tidak dapat melintas sama sekali.
Meski berada di perbatasan, pihak terkait mengonfirmasi bahwa secara administratif titik longsor masuk ke dalam wilayah Kabupaten Aceh Tengah. Penegasan ini bertujuan untuk mempercepat koordinasi penanganan darurat antar-daerah.
Kawasan Gunong Pijut sendiri memang dikenal memiliki karakteristik alam yang ekstrem:
Kontur Terjal: Lereng yang curam dan struktur tanah yang labil.
Rawan Bencana: Sangat rentan terhadap pergerakan tanah, terutama saat curah hujan tinggi dan sistem drainase alami yang tidak memadai.
Dampak Terhadap Masyarakat dan Ekonomi
Putusnya jalur vital ini membawa dampak signifikan bagi mobilitas regional:
Gangguan Mobilitas: Warga terpaksa mencari jalur alternatif yang memakan waktu lebih lama dan biaya lebih mahal.
Logistik Terhambat: Distribusi bahan pokok serta hasil pertanian dari dataran tinggi Gayo terancam tersendat.
Ekonomi Lokal: Aktivitas ekonomi yang bergantung pada jalur lintas kabupaten ini mengalami gangguan serius.
Imbauan: Masyarakat diminta tetap waspada terhadap potensi longsor susulan mengingat kondisi tanah yang belum stabil pascakejadian, terutama saat cuaca ekstrem melanda.
Saat ini, koordinasi antara Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah dan Kabupaten Pidie menjadi kunci utama. Diperlukan tindakan cepat berupa pengiriman alat berat untuk pembersihan material agar normalisasi jalan dapat segera dilakukan.
Peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya mitigasi bencana jangka panjang, seperti perbaikan drainase, penguatan vegetasi penahan tanah, serta pemantauan rutin pada titik-titik rawan di sepanjang jalur pegunungan tersebut.
Editor: Redaksi









