Paris – Menteri Ekonomi Prancis Roland Lescure memperkirakan kerugian akibat aksi kekerasan dan kerusuhan pada akhir pekan lalu mencapai puluhan hingga ratusan juta euro.
Berbicara kepada radio French RTL pada Rabu, 21 Oktober 2026, Lescure menyebut kerusuhan tersebut sangat serius, seraya mengatakan Prancis telah menghadapi serangan dari dalam negeri yang dilakukan dua kelompok yang disebutnya sebagai anarkis dan Perusuh.
Pemerintah Prancis, kata Lescure, bekerja sama dengan perusahaan asuransi untuk membantu para pemilik toko yang terdampak kerusakan. Ia juga berjanji bahwa otoritas akan mengambil semua langkah yang diperlukan untuk mencegah kejadian serupa terulang.
“Kami akan melakukan segala yang mungkin untuk mencegah hal ini terjadi lagi,” kata Lescure, merujuk pada rencana demonstrasi baru yang dijadwalkan berlangsung pada Sabtu mendatang.
Gerakan Rompi Kuning (Yellow Vest) telah mengumumkan rencana menggelar demonstrasi di Paris pada Sabtu. Koordinator gerakan tersebut, Benjamin Ball, mengatakan pemberitahuan resmi mengenai aksi itu telah disampaikan kepada Prefektur Kepolisian Paris, menurut penyiar BFMTV.
Cabang Paris dari Konfederasi Umum Buruh (CGT) dan sebuah serikat mahasiswa juga berencana menggelar aksi di kawasan Bastille, kata Ball.
Rencana demonstrasi tersebut muncul sepekan setelah aksi protes menentang kenaikan biaya hidup di ibu kota Prancis berujung bentrokan. Insiden kekerasan dan perusakan properti dilaporkan terjadi dalam aksi tersebut.
Sekitar 550.000 orang turun ke jalan di berbagai wilayah Prancis pada 17 Oktober. Bentrokan antara demonstran dan polisi pecah, sejumlah kendaraan dibakar, beberapa toko dijarah, dan lebih dari 2.000 orang ditangkap.
Penulis : Nazarullah
Editor: Dahlan









