Banda Aceh — Insiden tragis yang menimpa Kapal Motor Penumpang (KMP) Aceh Hebat 2 di Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh, memantik reaksi keras dari parlemen. Ketua Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), Nurdiansyah Alasta, menyatakan keprihatinan yang mendalam atas peristiwa meledaknya ruang mesin kapal tersebut yang mengakibatkan belasan korban luka-luka.
Politisi senior ini mendesak agar seluruh pihak terkait bergerak cepat memberikan penanganan medis yang optimal serta mengusut tuntas akar penyebab kecelakaan.
Nurdiansyah menegaskan bahwa fokus paling mendesak saat ini adalah memastikan para korban mendapatkan perawatan dan fasilitas pengobatan secara maksimal tanpa ada hambatan apa pun.
“Keselamatan penumpang dan awak kapal harus menjadi prioritas utama. Kami meminta pihak terkait memastikan seluruh korban ditangani dengan fasilitas medis terbaik hingga mereka benar-benar pulih,” ujar Nurdiansyah Alasta dalam keterangannya kepada media.
Selain penanganan korban, Ketua Komisi VI DPRA ini juga meminta dinas terkait untuk segera menegur dan mengingatkan PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) selaku pengelola armada. Ia menekankan pentingnya mengevaluasi total aspek keselamatan operasional agar tragedi serupa tidak kembali terulang di masa depan.
Sebab di balik ledakan tersebut dinilai harus diungkap secara transparan. Nurdiansyah mendesak otoritas berwenang untuk melakukan investigasi komprehensif pada sistem mekanis dan perawatan kapal milik Pemerintah Aceh tersebut.
“Kami meminta pihak berwenang melakukan investigasi secara menyeluruh atas kejadian tersebut,” katanya tegas. Menurutnya, hasil investigasi ini sangat penting sebagai pijakan untuk mengambil langkah-langkah perbaikan (prosedur keselamatan) ke depan demi menjamin rasa aman masyarakat pengguna jasa penyeberangan laut.
Berdasarkan laporan yang dihimpun sebelumnya, ledakan hebat yang disertai kebakaran melanda area kamar mesin KMP Aceh Hebat 2 pada Jumat, 12 Juni 2026. Insiden tersebut terjadi saat kapal penyeberangan itu tengah bersandar di dermaga Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh.
Kapten KN SAR Kresna, Supriadi, mengonfirmasi bahwa dampak ledakan tersebut cukup fatal bagi kru yang berada di area sekitar mesin.
“Korban terbakar berjumlah sekitar 14 orang. Mayoritas adalah taruna Poltekpel (Politeknik Pelayaran) yang kebetulan sedang melaksanakan praktik di atas kapal,” jelas Supriadi.
Pasca-kejadian, tim penyelamat gabungan bergerak cepat melakukan evakuasi. Seluruh korban yang menderita luka bakar langsung dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh untuk mendapatkan tindakan medis darurat. Hingga berita ini diturunkan, otoritas pelabuhan bersama pihak kepolisian masih melakukan sterilisasi di area kejadian guna mendukung proses penyelidikan lanjutan. [Adv]
Editor: Redaksi









