JAKARTA — Pemerintah pusat terus memperkuat langkah percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana di sejumlah wilayah Sumatera, khususnya Provinsi Aceh. Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian meminta tambahan personel dari TNI, Polri, serta berbagai sekolah kedinasan guna mempercepat pemulihan daerah terdampak bencana, terutama di Kabupaten Aceh Tamiang.
Permintaan tersebut disampaikan Tito Karnavian saat memimpin rapat koordinasi penanganan bencana yang digelar di Kantor Kementerian Dalam Negeri, Kamis, 15 Januari 2026. Dalam rapat itu, Tito memaparkan kondisi terkini pemerintahan daerah di wilayah terdampak serta kebutuhan mendesak di lapangan.
Menurut Tito, secara umum roda pemerintahan kabupaten/kota di wilayah terdampak bencana masih berjalan dengan baik. Namun, Aceh Tamiang menjadi satu-satunya daerah yang sempat mengalami kelumpuhan total akibat dampak bencana yang cukup parah.
“Untuk pemerintahan kabupaten, semuanya berjalan lancar, kecuali Aceh Tamiang. Aceh Tamiang kemarin betul-betul down, baik kantor bupatinya maupun dinas-dinasnya,” ujar Tito.
Ia menjelaskan, lumpur tebal yang menggenangi perkantoran dan permukiman warga membuat aktivitas pemerintahan tidak dapat berjalan normal. Kondisi ini berdampak langsung pada pelayanan publik dan penanganan kebutuhan masyarakat terdampak.
Namun demikian, Tito menyebut kondisi Aceh Tamiang kini mulai berangsur pulih setelah mendapatkan penguatan personel dari berbagai instansi. Pemerintah pusat telah mengerahkan TNI dan Polri, serta ribuan taruna dari sejumlah lembaga pendidikan kedinasan untuk membantu penanganan di lapangan.
“Sudah dibantu TNI, Polri, kemudian 1.100 lebih praja IPDN. Dari Kementerian Hukum ada sekitar 500 taruna dari Politeknik Ilmu Pemasyarakatan dan Ilmu Kepolisian. Ditambah lagi 1.142 personel dari Kementerian Kelautan dan Perikanan,” ungkapnya.
Penguatan personel tersebut dinilai sangat membantu, terutama dalam membersihkan lumpur di perkantoran pemerintahan, fasilitas umum, hingga rumah-rumah warga yang terdampak.
Dalam waktu dekat, Aceh Tamiang juga dipastikan akan kembali menerima tambahan personel melalui kegiatan Latihan Integrasi Taruna Wreda Nusantara (Latsitarda). Kegiatan ini melibatkan taruna dari berbagai akademi TNI dan Polri yang akan diterjunkan langsung ke daerah terdampak bencana.
“Minggu depan saya dengar akan ada Latsitarda dari akademi TNI dan Polri, total sekitar 2.000 orang. Sebagian besar akan diturunkan ke Aceh Tamiang, kemudian sebagian ke Aceh Timur, Aceh Utara, dan Pidie,” kata Tito.
Ia menambahkan, para taruna tersebut tidak hanya ditempatkan di pos-pos tertentu, tetapi akan bekerja langsung di tengah masyarakat. Mereka akan menyasar wilayah permukiman yang sulit dijangkau alat berat, seperti gang-gang sempit dan kawasan padat penduduk.
“Para taruna akan diterjunkan langsung ke wilayah yang terdampak lumpur dan bekerja secara door to door membersihkan rumah warga,” jelasnya.
Tito juga membuka peluang bagi sekolah kedinasan lain untuk ikut berkontribusi dalam penanganan pascabencana. Menurutnya, kebutuhan tenaga di lapangan masih sangat besar, sehingga keterlibatan lintas kementerian dan lembaga sangat dibutuhkan.
“Kalau ada lagi sekolah kedinasan yang mau mengirim personel, silakan. Dari Kementerian Perhubungan juga banyak, kemudian Sekolah Tinggi Intelijen Negara juga punya banyak pasukan,” ujarnya.
Meski demikian, Tito menegaskan bahwa penanganan pascabencana tidak bisa sepenuhnya mengandalkan alat berat. Alat berat memang dibutuhkan untuk membersihkan jalan utama dan fasilitas umum, namun untuk kawasan permukiman warga dibutuhkan tenaga manusia yang cukup banyak.
“Alat berat perlu untuk jalan dan fasilitas umum, tapi untuk masuk ke rumah-rumah warga, ke gang-gang sempit, itu tidak bisa hanya mengandalkan mesin,” pungkasnya.
Pemerintah berharap dengan tambahan ribuan personel tersebut, proses pemulihan di Aceh, khususnya Aceh Tamiang, dapat berjalan lebih cepat sehingga aktivitas pemerintahan dan kehidupan masyarakat bisa kembali normal.(**)
Editor: Redaksi









