Banda Aceh – Pemerintah Kota (Pemkot) Banda Aceh menegaskan komitmennya untuk tetap membuka ruang ekspresi bagi para seniman dan budayawan dalam menyelenggarakan berbagai event pertunjukan seni dan budaya, selama kegiatan tersebut memenuhi persyaratan serta mematuhi ketentuan dan kearifan lokal yang berlaku di ibu kota Provinsi Aceh.
Penegasan tersebut disampaikan Juru Bicara Pemkot Banda Aceh, Tomi Mukhtar, sebagai respons atas berbagai tudingan yang menyebutkan Pemkot Banda Aceh tidak terbuka terhadap kegiatan seni, menyusul batalnya konser band nasional Slank dan D’Masiv yang rencananya digelar di Stadion Harapan Bangsa Banda Aceh pada Sabtu, 25 Oktober lalu.
“Secara prinsip, Pemerintah Kota Banda Aceh tidak pernah menutup ruang ekspresi bagi seniman maupun budayawan untuk melaksanakan event-event pertunjukan kesenian,” kata Tomi Mukhtar di Banda Aceh, Rabu.
Menurut Tomi, batalnya konser tersebut tidak dapat serta-merta disimpulkan sebagai bentuk penolakan dari Pemkot Banda Aceh. Ia menjelaskan, izin pelaksanaan kegiatan sebenarnya telah dikeluarkan oleh Pemkot Banda Aceh. Namun, persoalan muncul pada aspek perizinan tempat, karena Stadion Harapan Bangsa berada di bawah kewenangan Pemerintah Aceh melalui Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora).
“Dalam sebuah kegiatan besar seperti ini, ada banyak instansi yang terlibat. Tidak hanya Pemkot Banda Aceh, tetapi juga kepolisian untuk izin keramaian, serta izin penggunaan lokasi yang berada di luar kewenangan pemkot,” jelasnya.
Ia menambahkan, Pemkot Banda Aceh telah menjalankan tugas dan kewenangannya sesuai aturan dengan memberikan izin kepada pihak penyelenggara atau event organizer (EO), sekaligus meminta agar seluruh ketentuan yang berlaku dapat dipatuhi dengan baik.
Tomi juga menegaskan bahwa kejadian tersebut seharusnya menjadi pembelajaran bagi para pelaku industri event, khususnya EO, agar lebih profesional dan cermat dalam mempersiapkan setiap aspek perizinan, terlebih untuk kegiatan berskala nasional.
“Harapan kami ke depan, kawan-kawan pelaku kegiatan atau event organizer cukup ikuti saja aturan yang berlaku. Faktanya, sehari setelah konser Slank batal, ada kegiatan pertunjukan lain di Taman Budaya Aceh dan kegiatan tersebut berjalan lancar, aman, dan sukses hingga selesai,” ujarnya.
Lebih lanjut, Tomi kembali menepis anggapan bahwa Pemkot Banda Aceh bersikap anti terhadap kegiatan hiburan atau pertunjukan seni. Ia menilai, event-event semacam itu justru memberikan dampak positif bagi perekonomian daerah, terutama bagi para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
“Pemkot Banda Aceh tidak pernah menutup ruang ekspresi. Justru kami menyadari bahwa kegiatan seni dan budaya dapat memberikan sumbangsih nyata terhadap pergerakan ekonomi masyarakat,” katanya.
Meski demikian, ia menekankan bahwa setiap kegiatan yang diselenggarakan di Kota Banda Aceh tetap harus menjunjung tinggi nilai-nilai kearifan lokal serta syariat Islam yang berlaku di daerah tersebut.
“Profesionalitas penyelenggara itu yang kami harapkan. Ikuti semua peraturan dan ketentuan yang telah ditetapkan pemerintah, serta hormati nilai-nilai dan kearifan lokal yang berlaku di Kota Banda Aceh,” pungkas Tomi Mukhtar.(**)
Editor: Dahlan









