Home / Ekbis

Jumat, 18 September 2026 - 10:35 WIB

Potensi dan Tantangan Bank Aceh Pasca Menyandang Status Bank Devisa

REDAKSI

Mantan Keuchik Pulo Drien Beukah Meurah Mulia Aceh Utara, Muhammad Nasir bin M Daud, divonis 2 tahun 6 bulan penjara kasus korupsi APBG 2020-2022. Kerugian negara Rp 629,7 juta, hakim juga wajibkan bayar uang pengganti.

Mantan Keuchik Pulo Drien Beukah Meurah Mulia Aceh Utara, Muhammad Nasir bin M Daud, divonis 2 tahun 6 bulan penjara kasus korupsi APBG 2020-2022. Kerugian negara Rp 629,7 juta, hakim juga wajibkan bayar uang pengganti.

BANDA ACEH — Akademisi Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Syiah Kuala (USK), Muhammad Ilhamsyah Siregar, menilai bahwa status bank devisa membuka peluang bagi Bank Aceh untuk memfasilitasi berbagai kebutuhan transaksi lintas negara. Layanan tersebut mencakup letter of credit (L/C), transfer valuta asing (valas), hingga negosiasi dokumen ekspor.

“Status bank devisa memungkinkan Bank Aceh melayani transaksi itu sendiri. Eksportir kopi Gayo atau nilam tidak perlu lagi memindahkan dananya keluar daerah hanya untuk mencairkan hasil ekspor. Uang itu tetap mengendap di bank lokal, lalu bisa disalurkan lagi sebagai pembiayaan ke pelaku usaha lain di Aceh. Bagi wisatawan asing, layanan penukaran valuta asing juga jadi lebih mudah diakses, bukan hanya lewat money changer swasta,” ujar Ilham, Jumat, 18 September 2026.

Baca Juga :  Koperasi Tambang Rakyat dan Polemik Kewenangan Aceh

Pengaruh terhadap Volume Ekspor dan Perputaran Ekonomi

Menurut Ilham, meski status bank devisa membuka jalan baru, hal tersebut tidak secara otomatis mendongkrak volume ekspor. Faktor utama penentu volume tetap berada pada tingkat produksi dan daya saing komoditas unggulan daerah seperti kopi, nilam, serta hasil perikanan. Kendati demikian, status ini mampu meruntuhkan satu hambatan struktural berupa ketergantungan terhadap bank di luar provinsi untuk urusan transaksi valas.

“Kalau eksportir bisa mencairkan devisa hasil ekspor lewat bank lokal, dana itu punya peluang lebih besar untuk mengendap dan berputar di ekonomi Aceh, bukan langsung mengalir ke Jakarta atau Medan lewat rekening bank cabang di sana. Efeknya pada perputaran devisa daerah nyata, tapi bertahap, bukan instan,” tambahnya.

Aspek Pendukung yang Harus Disiapkan Bank Aceh

Baca Juga :  Bank Aceh Sukses Tutup Rangkaian Kegiatan Gampong Ramadhan in Action

Guna memastikan seluruh manfaat tersebut dapat terealisasi dengan baik, Bank Aceh perlu mempersiapkan beberapa aspek pendukung utama:

Sumber Daya Manusia (SDM): Membutuhkan tenaga kerja yang menguasai transaksi valuta asing dan trade finance (seperti L/C, collection, dan negosiasi dokumen ekspor) yang memiliki risiko operasional tersendiri, sehingga pelatihan khusus diperlukan.

Jaringan Bank Koresponden: Hubungan dengan bank asing sangat krusial untuk keperluan kliring serta penyelesaian transaksi lintas negara agar layanan tidak lambat dan mahal.

Sistem Manajemen Risiko Valas: Kerangka pengendalian risiko nilai tukar diperlukan karena bank akan memegang posisi devisa terbuka.

Sosialisasi dan Daya Saing Biaya: Edukasi kepada pelaku usaha mengenai jenis layanan, biaya, dan mekanisme penggunaan sangat penting, di samping kemampuan menawarkan biaya transaksi yang kompetitif untuk bersaing dengan bank nasional yang lebih mapan.

Baca Juga :  PT Solusi Bangun Andalas dan BMKG Berkolaborasi untuk Mitigasi Bencana di Aceh Besar

Peluang Komoditas Unggulan Aceh

Kopi Gayo: Dinilai memiliki peluang paling besar karena telah mempunyai pasar ekspor yang relatif mapan dengan rutinitas transaksi yang jelas.

Nilam: Mimpan potensi serupa meskipun dengan skala volume yang lebih kecil.

Perikanan: Menghadirkan tantangan tersendiri karena sebagian besar ekspor hasil laut Aceh melalui jalur pengumpul di provinsi lain. Oleh sebab itu, Bank Aceh disarankan untuk mendekati eksportir langsung di hulu.

Secara keseluruhan, Ilham menyimpulkan bahwa status bank devisa hanyalah sebuah prasyarat agar Bank Aceh dapat mengambil porsi yang lebih besar dalam perdagangan internasional, dan bukan merupakan jaminan instan atas munculnya manfaat ekonomi tanpa adanya kesiapan operasional serta strategi harga yang kompetitif.

Penulis: Nazarullah

Editor: Dahlan

Share :

Baca Juga

Berita

Perkuat Transaksi Ritel UMKM, BSI Aceh Optimalkan Ekosistem Pasar

Berita

Sinergi dengan Kemenkeu, BSI Perkuat Kemitraan Pengelolaan Kas Negara

Ekbis

Wamen BUMN: UMKM Jadi Mitra Strategis dalam Pengadaan Barang dan Jasa

Ekbis

Harga Emas Antam Tembus Rp2,93 Juta per Gram, Tren Penguatan Berlanjut Pasca Lebaran

Berita

Dampak Rencana Kebijakan Ekspor Satu Pintu BUMN, Harga TBS Sawit di Aceh Anjlok

Aceh Besar

Jelang Ramadhan, Wagub Aceh dan Plt Sekda Aceh Besar Pastikan Stok Beras Aman

Daerah

Kebangkitan Cokelat Sabang: Dari Dapur Sederhana, CokBang Mengguncang Pasar Global dan Menghidupkan Harapan Petani

Ekbis

BI: Indonesia Kedatangan Rp2,83 Triliun Modal Asing Minggu Ini