Teheran – Sabtu, 28 Februari 2026, Ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat kembali menjadi sorotan dunia internasional di tengah suasana bulan suci Ramadan 1447 Hijriah. Di saat umat Muslim menjalankan ibadah puasa dengan penuh khusyuk, konflik politik dan militer yang telah berlangsung selama puluhan tahun itu menghadirkan kontras yang tajam antara harapan damai dan realitas ketegangan global.
Dalam beberapa hari terakhir, situasi kawasan Timur Tengah dilaporkan kembali memanas setelah meningkatnya aktivitas militer dan retorika politik dari kedua negara. Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran masyarakat internasional, terutama terhadap dampak kemanusiaan yang berpotensi meluas jika eskalasi konflik terus berlanjut.
Di balik dinamika strategi militer dan diplomasi internasional, terdapat jutaan warga sipil yang menjadi pihak paling rentan. Mereka menjalani kehidupan sehari-hari dalam bayang ketidakpastian, sekaligus tetap menjalankan ibadah puasa yang sarat makna kesabaran, pengendalian diri, dan harapan akan kedamaian.
Konflik panjang antara kedua negara tidak lahir dalam waktu singkat. Sejarah mencatat hubungan yang memburuk sejak akhir dekade 1970-an telah membentuk ketidakpercayaan yang mendalam. Persoalan program nuklir, sanksi ekonomi, hingga persaingan pengaruh politik di kawasan Timur Tengah menjadi faktor yang terus memicu ketegangan hingga hari ini.
Namun, di tengah situasi tersebut, Ramadan menghadirkan pesan yang berbeda. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga momentum refleksi kemanusiaan. Banyak masyarakat Muslim di berbagai negara memanjatkan doa agar konflik yang berkepanjangan dapat diselesaikan melalui jalur dialog dan diplomasi.
Suasana spiritual Ramadan terlihat kontras dengan gambaran konflik. Di berbagai masjid, doa-doa dipanjatkan untuk keselamatan dunia. Seruan perdamaian menggema dari mimbar ke mimbar, mengingatkan bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada senjata, melainkan pada kemampuan manusia menahan ego dan membuka ruang pengertian.
Pengamat hubungan internasional menilai bahwa konflik berkepanjangan tidak hanya berdampak pada stabilitas kawasan, tetapi juga pada kondisi sosial-ekonomi masyarakat global. Ketidakstabilan politik dapat memicu gangguan energi, perdagangan, hingga keamanan regional.
Meski demikian, harapan tetap ada. Sejumlah negara dan organisasi internasional terus mendorong langkah diplomasi agar ketegangan tidak berkembang menjadi konflik terbuka yang lebih luas. Ramadan dinilai sebagai momentum moral yang kuat untuk menurunkan eskalasi dan memperkuat komunikasi damai.
Bagi masyarakat sipil, terutama umat Muslim yang sedang menjalankan ibadah puasa, pesan kemanusiaan menjadi semakin relevan. Puasa mengajarkan empati terhadap penderitaan sesama, termasuk mereka yang hidup di wilayah konflik. Dalam setiap doa yang dipanjatkan, tersimpan harapan agar suara kemanusiaan lebih kuat daripada dentuman senjata.
Ramadan tahun ini kembali mengingatkan dunia bahwa di tengah perbedaan politik dan kepentingan negara, nilai-nilai kemanusiaan tetap menjadi titik temu universal. Ketika jutaan orang menundukkan kepala dalam doa, harapan akan perdamaian terus hidup—melampaui batas negara, ideologi, dan kekuatan militer.(**)
Editor: Redaksi













