Khan Younis – Gelombang serangan udara Israel kembali mengguncang Jalur Gaza dan menewaskan sedikitnya 32 orang, termasuk perempuan serta anak-anak. Serangan yang terjadi pada Sabtu (31/1/2026) itu disebut sebagai salah satu yang paling berat sejak fase kedua gencatan senjata mulai diberlakukan.
Ledakan dahsyat terdengar di sejumlah wilayah, terutama di bagian selatan Gaza. Tenda-tenda pengungsi di Khan Younis dilaporkan menjadi salah satu sasaran utama, bersama apartemen warga dan beberapa lokasi penampungan yang selama ini menjadi tempat berlindung masyarakat sipil.
Serangan tersebut memicu kepanikan besar di tengah warga yang sudah berbulan-bulan hidup dalam kondisi serba kekurangan. Banyak keluarga yang terpaksa mengungsi berkali-kali kini kembali kehilangan tempat aman, sementara fasilitas kesehatan kewalahan menangani korban yang terus berdatangan.
“Tidak ada tempat yang benar-benar aman di Gaza,” ungkap salah satu warga yang menyaksikan serangan itu. Ia menggambarkan situasi mencekam ketika suara pesawat tempur datang di malam hari, disusul ledakan yang menghancurkan tenda-tenda dan bangunan tempat warga berlindung.
Kecaman Internasional Menguat
Serangan terbaru ini menuai kecaman luas dari berbagai pihak internasional. Banyak negara menilai serangan terhadap area pengungsian dan lokasi penampungan sipil sebagai tindakan yang memperburuk krisis kemanusiaan yang sudah sangat parah di Gaza.
Organisasi kemanusiaan juga memperingatkan bahwa kondisi di wilayah tersebut semakin kritis. Ribuan warga kini hidup tanpa akses memadai terhadap makanan, air bersih, listrik, maupun layanan medis.
Gencatan Senjata di Ujung Tanduk
Situasi ini kembali memunculkan pertanyaan besar mengenai keberlangsungan gencatan senjata yang sebelumnya diharapkan mampu meredakan konflik. Serangan besar ini dianggap sebagai ujian berat bagi proses diplomasi yang tengah berlangsung.
Negara-negara mediator seperti Mesir dan Qatar segera mendesak semua pihak untuk menahan diri dan menghentikan eskalasi. Mereka menegaskan bahwa kekerasan hanya akan memperpanjang penderitaan warga sipil dan menghambat peluang perdamaian.
Namun di lapangan, jumlah korban terus bertambah, sementara warga Gaza semakin terjebak dalam kondisi yang digambarkan sebagai krisis kemanusiaan terburuk dalam beberapa dekade terakhir.
Di tengah puing-puing bangunan dan tenda-tenda yang hancur, masyarakat Gaza kembali menghadapi kenyataan pahit: harapan akan ketenangan masih jauh dari pasti, sementara ancaman serangan susulan terus membayangi.(**)
Editor: Redaksi









