Jakarta – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi cuaca yang tidak menentu atau kerap disebut sebagai cuaca “galau”. Fenomena ini merupakan ciri khas dari masa pancaroba atau peralihan musim yang tengah terjadi di sejumlah wilayah Indonesia.
Dalam periode ini, perubahan cuaca dapat berlangsung secara sangat cepat. Melalui akun Instagram resminya, @infobmkg, dijelaskan bahwa pagi hari yang semula cerah dan panas terik bisa berubah drastis menjadi hujan lebat yang disertai petir dan angin kencang pada siang hingga sore hari.
Pemicu Cuaca Ekstrem
BMKG menjelaskan bahwa saat masa peralihan, kondisi atmosfer cenderung tidak stabil. Hal ini memicu pembentukan awan Cumulonimbus secara lebih cepat. Awan raksasa inilah yang menjadi pemicu utama hujan intensitas lebat, kilat, angin kencang, hingga potensi cuaca ekstrem lainnya.
”Saat ini, atmosfer sedang bergejolak sehingga cuaca dapat berubah secara tiba-tiba. Awan-awan raksasa (Cumulonimbus) terbentuk lebih cepat membawa ancaman angin kencang, badai petir, hingga hujan es,” tulis BMKG dalam unggahan di media sosialnya.
Ciri-Ciri Cuaca Pancaroba
Masyarakat diminta mengenali pola cuaca selama masa pancaroba agar dapat melakukan langkah antisipasi. Berikut adalah ciri-cirinya:
Pagi Hari: Cuaca cerah dengan panas matahari yang terasa cukup menyengat.
Siang Hari: Mulai terbentuk awan gelap dan tebal (jenis Cumulonimbus).
Sore hingga Malam: Berpotensi terjadi hujan lebat yang dapat berlangsung hingga dini hari.
Aktivitas Petir: Sering muncul petir, terutama setelah periode panas yang berlangsung cukup lama.
Langkah Antisipasi
Seiring dengan kondisi atmosfer yang tidak stabil, BMKG menekankan pentingnya langkah pencegahan bagi masyarakat, di antaranya:
Selalu sedia payung atau jas hujan saat beraktivitas di luar ruangan.
Menjaga kondisi kesehatan tubuh agar tetap fit di tengah perubahan cuaca yang ekstrem.
Rutin memantau informasi cuaca terkini melalui kanal resmi BMKG.
Dengan memahami pola cuaca di masa pancaroba ini, masyarakat diharapkan dapat lebih siap menghadapi risiko serta meminimalkan dampak buruk yang mungkin ditimbulkan oleh cuaca ekstrem seperti puting beliung maupun hujan es. (**)
Editor: Redaksi









