Home / Aceh / Politik

Senin, 15 September 2025 - 20:56 WIB

MaTA Minta Pengelolaan Dana Parpol di Aceh Lebih Transparan dan Akuntabel

REDAKSI

Koordinator Masyarakat Transparansi Aceh (MaTA) Alfian

Koordinator Masyarakat Transparansi Aceh (MaTA) Alfian

Banda Aceh – Koordinator Masyarakat Transparansi Aceh (MaTA), Alfian, menegaskan dana bantuan keuangan untuk partai politik (parpol) di Aceh pada 2025 wajib dikelola secara transparan dan akuntabel. Alasannya, alokasi hibah tersebut tercatat sebagai yang terbesar di Indonesia.

“Dengan dana sebesar ini, kita berharap publik di Aceh ikut mengawasi apakah benar-benar digunakan untuk penguatan politik internal partai, membangun etika berpolitik, dan mendorong demokratisasi di internal partai,” Ujarnya 15 September 2025.

Baca Juga :  Pembuatan Undang-undang Penyadapan Dimulai,DPR Fokus Pada Pencegahan Penyalahgunaan

Sebelumnya, Gubernur Aceh Muzakir Manaf (Mualem) menetapkan 13 parpol penerima hibah keuangan tingkat DPRA dengan total anggaran Rp29,3 miliar. Ketetapan itu tertuang dalam surat bernomor 200.2/1020/2025.

Menurut Alfian, formula pengalokasian di Aceh, yakni Rp 10 ribu per suara sah, jauh lebih tinggi dibanding provinsi lain.

“Di Maluku misalnya hanya 5 ribu, bahkan di Sulawesi 3 ribu. Jadi Aceh paling tinggi, hampir 400 persen lebih besar,” jelasnya.

Baca Juga :  Pangdam Iskandar Muda Ajak Masyarakat Aceh Semarakkan Kemerdekaan RI ke-80.

Ia menekankan, besarnya dana harus berbanding lurus dengan transparansi, akuntabilitas, serta demokrasi internal parpol. Namun pengalaman masa lalu justru menunjukkan sebaliknya.

“Pada 2013–2014, saat diuji soal akses keuangan, rata-rata parpol di DPRA resisten. Publik dianggap asing, padahal mereka tak punya akuntabilitas maupun transparansi,” ungkap Alfian.

Jika parpol abai berbenah, kata dia, maka dampaknya langsung terasa ketika mereka duduk di parlemen atau eksekutif. Pola pengelolaan yang tidak sehat di internal partai akan merembet pada tata kelola pemerintahan

Baca Juga :  Gubernur Muzakir Manaf Lantik Wali Kota dan Wakil Wali Kota Banda Aceh

“Kita berharap dana ini dimanfaatkan maksimal, jangan ada manipulasi,” tegasnya.

Alfian meminta Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Aceh untuk melakukan audit rutin.

“Apalagi jumlahnya tidak sedikit. Pada 2026 nanti, masyarakat sipil, media, dan akademisi harus mengevaluasi sejauh mana transparansi dan akuntabilitas dana ini, serta apakah berdampak pada pendidikan kader, etika politik, dan demokratisasi internal partai,” pungkasnya.

Editor: RedaksiSumber: https://Ajnn

Share :

Baca Juga

Parlementarial

Daniel Abdul Wahab Dukung Langkah Mualem Surati Presiden, untuk Selesaikan Tanah Blang Padang

Parlementarial

Ketua DPRA Ingatkan Pemerintah di. acehTentang MoU Helsinki dalam Penambahan Bataliyon

Aceh

Tuntutan Kemandirian Energi dan Ekonomi Aceh Pasca-Banjir dan Longsor: PAMI Desak Pemerintah Ambil Langkah Strategis

Aceh

Menentukan Arah Partai: 23 DPC Demokrat se-Aceh Siap Sukseskan Musda VI

Aceh

Pemerintah Aceh Targetkan Jadi Tuan Rumah MTQ Nasional 2028 

Aceh

Polisi dan PLN Bersinergi Bersihkan Polindes Pasca Banjir Bandang di Aceh Tamiang

Aceh

Ketua Baitul Mal Banda Aceh: Banyak Pengusaha Kolaps karena Dua Kesalahan Kelola Zakat

Aceh

Warga Lhokseumawe Tewas Ditembak, Keluarga Minta Pelaku Ditangkap