Jakarta – Harga emas produksi PT Aneka Tambang (Persero) Tbk atau yang dikenal sebagai emas Antam Logam Mulia mengalami penurunan tajam pada perdagangan hari ini, Jumat (6/2/2026). Koreksi harga ini sekaligus menghapus kenaikan tipis yang sempat terjadi pada perdagangan sehari sebelumnya.
Berdasarkan data resmi dari situs logammulia.com yang diakses pukul 08.49 WIB, harga emas Antam di Butik Emas LM Graha Dipta Pulo Gadung, Jakarta, tercatat sebesar Rp2.856.000 per gram. Harga tersebut turun Rp100.000 dibandingkan perdagangan Kamis (5/2/2026) yang berada di level Rp2.956.000 per gram.
Penurunan harga hari ini terbilang cukup signifikan, mengingat pada perdagangan Kamis kemarin emas Antam justru sempat menguat sebesar Rp10.000 per gram. Dengan koreksi tajam ini, pergerakan harga emas Antam kembali menjauh dari level tertingginya dan menunjukkan tekanan jual yang kuat di pasar.
Tak hanya harga jual, harga buyback atau pembelian kembali emas Antam juga ikut melemah. Hari ini, harga buyback dipatok di level Rp2.571.000 per gram, turun Rp149.000 dibandingkan perdagangan sebelumnya. Penurunan buyback yang lebih dalam ini membuat selisih harga jual dan beli kembali semakin melebar, yang menjadi perhatian tersendiri bagi investor emas ritel.
Anjloknya harga emas Antam sejalan dengan tekanan yang terjadi di pasar emas global. Pada perdagangan Jumat (6/2/2026) hingga pukul 06.35 WIB, harga emas dunia di pasar spot tercatat merosot 1,17% ke posisi US$4.750 per troy ons.
Sebelumnya, pada perdagangan Kamis (5/2/2026), harga emas global juga telah jatuh lebih dalam, yakni turun 3,13% ke level US$4.860,58 per troy ons. Penurunan beruntun ini terjadi setelah emas dunia sempat menguat selama dua hari berturut-turut.
Harga penutupan emas global pada perdagangan Kamis tersebut bahkan menjadi yang terendah sejak 2 Februari 2025, menandakan tekanan jual yang cukup agresif di pasar internasional. Kondisi ini kemudian berdampak langsung pada harga emas domestik, termasuk emas Antam Logam Mulia.
Tekanan pada harga emas dunia umumnya dipengaruhi oleh berbagai faktor global, mulai dari pergerakan dolar AS, kebijakan suku bunga bank sentral, hingga sentimen pasar terhadap aset berisiko. Ketika emas global melemah, harga emas fisik di dalam negeri pun cenderung ikut terkoreksi.
Dengan kondisi ini, pelaku pasar dan investor emas di Tanah Air dihadapkan pada dua pilihan: memanfaatkan koreksi harga sebagai peluang akumulasi jangka panjang, atau menahan diri sambil menunggu kepastian arah pergerakan harga emas global dalam beberapa waktu ke depan.(**)
Editor: Dahlan









