Kota Jantho — Aroma khas rempah-rempah dan kepulan asap dari kuali besar (belanga) seketika mengubah suasana di pusat pemerintahan Aceh Besar. “Suasana hangat dan penuh kebersamaan terasa di halaman Dekranasda Aceh Besar, Kamis (25/6/2026), saat masyarakat berkumpul memperingati 10 Muharram melalui tradisi memasak bubur Asyura dan toet apam. Kegiatan ini bukan sekadar seremoni, melainkan upaya menjaga warisan budaya Islam yang mulai tergerus zaman.”
”Bupati Aceh Besar H. Muharram Idris menyampaikan bahwa peringatan 10 Muharram memiliki makna istimewa dalam Islam. Selain dianjurkan untuk berpuasa, hari Asyura juga sarat dengan nilai sejarah dan keutamaan, termasuk memperbanyak sedekah serta menyantuni anak yatim.”
Dalam sambutannya, orang nomor satu di Aceh Besar ini menegaskan ambisi daerah untuk menaikkan kelas tradisi indigenos ini ke panggung pariwisata.
“Alhamdulillah hari ini kita berkumpul untuk memperingati 10 Muharram. Tradisi memasak bubur Asyura ini ingin terus kita hidupkan, karena ini bagian dari budaya Islam yang bisa kita angkat menjadi daya tarik wisata religi Aceh Besar,” ujar pria yang akrab disapa Syech Muharram itu.
Edukasi Generasi Muda di Tengah Gempuran Modernisasi
Langkah menghidupkan kembali tradisi kuliner sufistik ini bukan tanpa alasan. Syech Muharram melihat ada ancaman amnesia budaya pada keturunan digital saat ini. “Menurutnya, tradisi ini mulai jarang dikenal oleh generasi muda. Karena itu, kegiatan tersebut menjadi momentum penting untuk memperkenalkan kembali nilai-nilai keislaman yang terkandung di dalamnya.”
Jika pemerintah dan tetua adat abai, identitas kultural ini diprediksi bakal lenyap dalam beberapa dekade ke depan.
“Kalau tidak kita laksanakan dan ingatkan, lama-lama generasi anak cucu kita tidak lagi mengenal momen penting ini,” tambahnya.
Kompak dalam Belanga: Kompetisi Antar-Instansi dan Warga
Untuk memeriahkan suasana, halaman Dekranasda disulap menjadi arena dapur umum yang masif. “Dalam kegiatan tersebut, puluhan tim ambil bagian dalam lomba memasak bubur Asyura dan toet apam. Berdasarkan laporan panitia, terdapat sekitar 34 tim yang terdiri dari perwakilan kecamatan, pengajian, serta organisasi perangkat daerah (OPD).”
Filosofi Asyura yang menekankan aspek sosial langsung dipraktikkan begitu seluruh masakan matang. “Selain menjadi ajang kompetisi, hasil masakan juga dibagikan kepada masyarakat. Sebagian peserta bahkan membawa pulang bubur untuk dibagikan kembali di kampung masing-masing, memperluas semangat berbagi yang menjadi inti dari peringatan ini.”
“Setelah dinilai oleh juri, bubur ini akan dibagikan kepada warga sekitar. Ada juga yang dibawa pulang untuk dibagikan di kampung,” jelas Bupati.
Peta Jalan Wisata Religi dan Sejarah Aceh Besar
Festival kuliner Muharram ini rupanya menjadi pembuka dari megaproyek kebudayaan yang sedang dirancang Pemkab setempat. “Ke depan, Pemerintah Kabupaten Aceh Besar berkomitmen menjadikan peringatan 10 Muharram sebagai agenda tahunan. Tidak hanya itu, berbagai tradisi keagamaan lainnya seperti pawai takbiran, peringatan Maulid, hingga wisata ziarah ke makam ulama juga akan terus dikembangkan.”
”Langkah ini diharapkan mampu menarik minat wisatawan, khususnya dari luar daerah dan mancanegara, yang selama ini memiliki ketertarikan terhadap wisata religi di Aceh.”
Restorasi situs kuno juga masuk dalam radar prioritas guna memperkuat narasi sejarah Tanah Rencong kepada dunia luar.
“Kita juga akan mengembangkan situs-situs sejarah seperti Bukit Lamreh dan Lamuri, serta lokasi-lokasi peninggalan ulama untuk dijadikan destinasi ziarah. Ini bagian dari upaya kita mengangkat potensi sejarah dan budaya Aceh Besar,” tutupnya.
”Melalui kegiatan sederhana namun sarat makna ini, Aceh Besar tidak hanya merawat tradisi, tetapi juga menanamkan nilai kebersamaan, kepedulian, dan spiritualitas kepada generasi masa depan.”
Agenda kolosal ini berlangsung sukses dengan pengawalan penuh dari jajaran pemangku kebijakan daerah. “Turut hadir dalam acara tersebut, unsur Forkopimda, Ketua MPU, para staf ahli, asisten, kepala OPD dan Camat dijajaran Pemkab Aceh Besar.”
Editor: Redaksi









