MEULABOH – Puluhan ekor ayam kampung milik warga di Gampong Tamping, Kecamatan Panton Reu, Kabupaten Aceh Barat, dilaporkan mati secara mendadak dalam beberapa hari terakhir. Fenomena yang dikenal warga setempat sebagai penyakit kunyang, aratan, atau ta eun ini memicu keresahan karena melanda hampir seluruh rumah yang memelihara unggas.
Ayam yang terserang penyakit ini umumnya mendadak lemas, kehilangan nafsu makan, dan mati dalam waktu singkat. Warga menduga kematian massal ini disebabkan oleh serangan penyakit *Newcastle Disease* (ND) atau tetelo, meski hal tersebut masih memerlukan kepastian dan pemeriksaan dari instansi berwenang.
Keuchik Gampong Tamping, Erwin, membenarkan bahwa hampir semua pemelihara ayam kampung di wilayahnya terdampak. Sejumlah warga mengalami kerugian bernilai jual cukup tinggi setelah kehilangan ternak dalam jumlah bervariasi secara bersamaan.
Berdasarkan data laporan warga, beberapa pemilik ternak yang kehilangan ayamnya antara lain Susi (3 ekor), Chacha (5 ekor), Liana (4 ekor), Roshani (3 ekor), dan Alvi (6 ekor), di samping sejumlah warga lainnya yang mengalami kondisi serupa.
Keresahan masyarakat kian meningkat mengingat dalam beberapa hari ke depan warga akan menggelar kenduri Pang Ule untuk menyambut Maulid Nabi Muhammad SAW. Keberadaan ayam kampung selama ini menjadi sumber pendapatan sekaligus bahan konsumsi rumah tangga warga.
Salah seorang warga terdampak, Chacha, berharap pemerintah kecamatan dan instansi teknis terkait dapat segera turun ke lokasi untuk melakukan pemeriksaan pada unggas yang mati maupun yang masih hidup. Langkah penanganan yang cepat dinilai krusial agar wabah tidak meluas ke kandang lainnya.
“Kami berharap pemerintah kecamatan atau pihak terkait segera menangani permasalahan penyakit ternak ayam ini sebelum meluas dan menyerang ternak warga lainnya,” ujar Chacha.
Sambil menunggu penanganan dari petugas peternakan, masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan dengan memisahkan ternak yang sakit dan tidak mencampurnya dengan unggas lain guna mencegah penularan.
Editor: Dahlan











