BANDA ACEH — Muhammad Ridwan langsung dihadapkan pada tantangan berat setelah dipercaya menangani Persiraja Banda Aceh. Pelatih anyar Laskar Rencong itu hanya memiliki waktu singkat untuk mempersiapkan tim menghadapi Sumsel United dalam lanjutan Pegadaian Championship 2026/27.
Pertandingan Persiraja kontra Sumsel United dijadwalkan berlangsung pada Jumat, 2 Oktober 2026. Laga tersebut menjadi debut Ridwan bersama Persiraja setelah kesepakatan dengan manajemen tercapai dalam waktu relatif singkat.
Ridwan mengaku bersyukur sekaligus merasa terhormat mendapat kepercayaan menangani Persiraja. Menurutnya, proses komunikasi dengan manajemen berlangsung singkat, tetapi dilakukan secara serius hingga akhirnya menghasilkan kesepakatan.
“Yang pertama, saya merasa bersyukur. Saya bersyukur, saya merasa terhormat untuk bisa ada di sini. Saya mengapresiasi apa yang dikomunikasikan, apa yang ditawarkan kepada saya,” kata Muhammad Ridwan di Stadion H Dimurthala, Banda Aceh, Senin, 28 September 2026.
Ia mengatakan tawaran menangani Persiraja datang pada Jumat. Meski waktu yang tersedia tidak banyak, komunikasi bersama manajemen terus dilakukan hingga kedua pihak mencapai kesepakatan.
“Saya melihat Persiraja ini adalah tim yang baik, tim tradisional yang punya basis pendukung yang bagus, tim yang bagus,” ujarnya.
Kesan Masa Lalu dan Potensi Skuad
Keputusan Ridwan menerima tawaran tersebut juga dipengaruhi pengalamannya ketika masih aktif sebagai pemain. Ia pernah menghadapi Persiraja di Banda Aceh saat memperkuat Garudayaksa.
Ridwan mengingat pertandingan tersebut sebagai laga yang membuat timnya harus bekerja keras untuk membawa pulang satu poin. Pengalaman itu menjadi salah satu kesan yang melekat dalam pandangannya terhadap Persiraja.
“Maka, impresi waktu pertama datang ke sini itu yang melekatkan saya bahwa Persiraja adalah tim yang sangat baik. Maka saya terima tawaran itu,” katanya.
Meski demikian, Ridwan mengaku tidak serta-merta menerima tawaran tersebut. Ia terlebih dahulu melihat kondisi skuad dan mengevaluasi sejumlah pertandingan yang telah dilalui Persiraja.
“Saya perlu melihat dulu bagaimana skuad saya. Saya melihat beberapa pertandingan yang sudah dijalani dan saya melihat bahwa Persiraja mempunyai skuad yang bisa bersaing,” jelasnya.
Ridwan melihat Persiraja memiliki sejumlah pemain dengan talenta yang dapat dikembangkan. Ia berharap potensi tersebut bisa menjadi modal untuk memperbaiki performa tim sekaligus mengejar prestasi yang lebih baik.
“Beberapa talenta-talenta sangat baik dan saya yakin ke depan kita bisa bekerja sama-sama, kita bisa membawa prestasi yang lebih baik lagi, insya Allah,” ujarnya.
Situasi Kurang Ideal dan Tekanan Tim
Namun, pekerjaan Ridwan tidak dimulai dalam situasi ideal. Persiraja datang ke pertandingan berikutnya dengan modal tiga kekalahan beruntun. Menurut Ridwan, rentetan hasil tersebut turut memengaruhi kondisi psikologis skuad yang kini ditanganinya.
“Skuad pemain ini kan kondisinya tidak baik-baik saja, tiga kali kalah dan ini mungkin jarang terjadi di Persiraja,” katanya.
Situasi tersebut semakin menantang karena Ridwan tidak memiliki banyak waktu untuk melakukan pembenahan. Setelah resmi bergabung, ia harus segera mempersiapkan tim menghadapi Sumsel United.
“Sebagai pelatih, mungkin datang tidak diharapkan, membuat apa yang akan kita lakukan di depan, apalagi kita hanya punya waktu beberapa hari untuk pertandingan selanjutnya,” ujarnya.
Ridwan juga menyadari tekanan yang kini dirasakan para pemain setelah tiga hasil buruk secara beruntun. Namun, ia mengaku tidak asing dengan situasi tersebut karena pernah mengalaminya, baik ketika masih menjadi pemain maupun saat menjalani karier sebagai pelatih.
“Memang, kondisi seperti ini memang kondisi yang kurang ideal untuk kita semua. Saya pernah mengalami kondisi seperti ini, baik sebagai pemain maupun sebagai pelatih. Jadi, saya tahu rasanya,” kata dia.
Penulis: Tika Fitri Lestari
Editor: Dahlan









