Banda Aceh – Sebanyak 133 pekebun kelapa sawit dari Kabupaten Aceh Timur dan Kota Subulussalam mengikuti pelatihan “Implementasi ISPO Program Pengembangan SDM Perkebunan Kelapa Sawit” yang dibuka pada 29 September 2026.
Kegiatan yang berlangsung hingga 4 Oktober 2026 tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan kapasitas sumber daya manusia pekebun dalam memahami dan menerapkan standar keberlanjutan perkebunan kelapa sawit melalui Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO).
Pelatihan ini diselenggarakan melalui kolaborasi Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Republik Indonesia, dan PT Iskol Agridaya Internasional. Kegiatan tersebut diarahkan untuk memperkuat pemahaman pekebun mengenai pengelolaan perkebunan kelapa sawit yang berkelanjutan sekaligus mendorong penerapan standar yang berlaku di tingkat usaha perkebunan.
Pembukaan pelatihan dihadiri sejumlah pemangku kepentingan, di antaranya Kepala Bidang Usaha Tani, Perizinan Produksi dan Pengelolaan Perkebunan Kabupaten Aceh Timur, Erni Safwar, S.P., Kepala Bidang Perkebunan Kota Subulussalam, Andriansyah, S.ST., Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Aceh, Dr. Ir. Azanuddin Kurnia, S.P., M.P., serta Tulus Tri Margono, S.P., M.P., dari Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Republik Indonesia.
Kehadiran para pemangku kepentingan tersebut menunjukkan dukungan terhadap peningkatan kapasitas pekebun, khususnya dalam mempersiapkan mereka untuk memahami dan menerapkan prinsip-prinsip perkebunan kelapa sawit berkelanjutan.
Dalam sambutannya, Erni Safwar, S.P., menekankan pentingnya peningkatan kapasitas sumber daya manusia sebagai bagian dari penerapan standar keberlanjutan kelapa sawit. “Pelatihan ini merupakan bagian dari komitmen kita bersama dalam meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, khususnya dalam penerapan standar keberlanjutan kelapa sawit.
Sertifikasi ISPO bukan hanya sertifikat, tetapi wujud nyata dari tanggung jawab kita terhadap lingkungan,” ujarnya. Senada dengan hal tersebut, Kepala Bidang Perkebunan Kota Subulussalam, Andriansyah, S.ST., berharap peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan selama mengikuti pelatihan, tetapi juga dapat membagikan pengetahuan tersebut kepada pekebun lainnya di daerah masing-masing. Dengan demikian, pemahaman mengenai standar perkebunan berkelanjutan diharapkan dapat semakin berkembang di tingkat pekebun.
Arahan juga disampaikan oleh Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Aceh, Dr. Ir. Azanuddin Kurnia, S.P., M.P. Ia menegaskan bahwa penerapan ISPO merupakan komitmen bersama dalam mewujudkan pengelolaan perkebunan kelapa sawit yang berkelanjutan. Menurutnya, pelatihan tidak hanya memberikan pemahaman secara teori, tetapi juga memberikan kesempatan kepada peserta untuk melihat penerapan di lapangan.
“ISPO merupakan komitmen bersama untuk melaksanakan pertanian sawit secara berkelanjutan. Harapannya, dengan pelatihan ini yang tidak hanya terkait teori, tetapi juga ada kegiatan kunjungan lapangan, petani yang sudah mengikuti pelatihan dapat mulai menerapkan standar ISPO di tempatnya masing-masing,” ungkapnya.
Sementara itu, Tulus Tri Margono, S.P., M.P., dari Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Republik Indonesia, menekankan pentingnya penerapan standar keberlanjutan ISPO sebagai bagian dari upaya menunjukkan komitmen perkebunan kelapa sawit Indonesia terhadap pengelolaan yang berkelanjutan.
“Dengan upaya penerapan standar keberlanjutan ISPO pada kelapa sawit, kita dapat menjawab dan menunjukkan kepada dunia bahwa perkebunan kelapa sawit tidak merusak lingkungan dan dapat berkelanjutan,” tuturnya.
Melalui pelatihan ini, para pekebun diharapkan tidak hanya memahami standar ISPO secara konseptual, tetapi juga mampu mengimplementasikannya dalam pengelolaan perkebunan masing-masing. Kegiatan pembelajaran dan kunjungan lapangan menjadi bagian penting untuk memberikan gambaran mengenai penerapan standar keberlanjutan secara nyata.
Selain meningkatkan kapasitas pekebun, pengetahuan yang diperoleh selama pelatihan diharapkan dapat diteruskan kepada pekebun lainnya di daerah masing-masing. Dengan demikian, penerapan prinsip perkebunan kelapa sawit berkelanjutan dapat semakin diperkuat di tingkat pekebun.
Pelatihan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas sumber daya manusia perkebunan kelapa sawit di Aceh Timur dan Subulussalam serta mendorong pengelolaan perkebunan yang produktif, bertanggung jawab terhadap lingkungan, dan berkelanjutan.(***)
Editor: Dahlan









