KUALASIMPANG — Para peternak di Kabupaten Aceh Tamiang hingga kini masih menantikan realisasi janji pemerintah terkait penggantian ternak mereka yang mati akibat bencana banjir bandang pada akhir 2025 lalu.
Berdasarkan data Dinas Pertanian, Peternakan, dan Perkebunan (Distanbunak) Aceh Tamiang, bencana tersebut mengakibatkan lebih dari 11 ribu ekor ternak warga mati, di mana mayoritas di antaranya merupakan sapi.
Seorang peternak asal Kecamatan Kejuruan Muda mengungkapkan bahwa sejumlah pejabat tinggi—mulai dari gubernur, menteri, hingga presiden—sempat datang meninjau lokasi bencana pascabanjir dan menjanjikan bantuan penggantian ternak.
“Dulu pas awal-awal banjir kan banyak pejabat datang, mulai dari gubernur, menteri sampai presiden. Mereka semua berjanji mau mengganti ternak yang mati,” ujar peternak tersebut pada Minggu (11/10/2026).
Demi menghindari kegaduhan, peternak tersebut memilih untuk merahasikan identitasnya. Namun, ia sangat berharap agar janji-janji yang pernah diucapkan para pejabat dapat segera dibuktikan.
“Sudah satu tahun loh, kami menunggu bantuan itu dibuktikan. Kami butuh bantuan untuk bangkit lagi,” tambahnya.
Pendataan dan Dampak Populasi
Menanggapi keluhan tersebut, Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Distanbunak Aceh Tamiang, Muhammad Yunus, membenarkan bahwa angka kematian ternak akibat banjir bandang 2025 mencapai sekitar 11 ribu ekor.
Yunus menjelaskan bahwa proses pendataan ternak yang mati telah selesai dilakukan pada awal 2026. Seluruh data tersebut telah disusun dalam bentuk laporan resmi dan diajukan kepada pemerintah pusat/daerah sebagai dasar pengusulan bantuan.
“Untuk usulan bantuan sudah kami sampaikan. Kita berharap ada titik terang,” tutur Yunus.
Ia tidak menampik bahwa tingginya angka kematian ternak berdampak signifikan terhadap populasi sapi di Aceh Tamiang. Sebelum bencana terjadi, populasi sapi di wilayah tersebut mencatatkan angka sekitar 38 ribu ekor. Namun pascabanjir, jumlahnya menyusut menjadi sekitar 29 ribu ekor.
Meski terjadi penurunan populasi yang cukup drastis, Yunus memastikan bahwa kondisi ini belum mengganggu ketersediaan dan pasokan pangan bagi masyarakat setempat.
“Kalau dilihat dari populasi pasti berkurang, tapi belum memengaruhi kebutuhan pangan. Kalau kebutuhan pangan masih aman,” pungkasnya. (mad)
Penulis: Tika Fitri Lestari
Editor: Dahlan









