ACEH UTARA – PDAM Tirta Pase Kabupaten Aceh Utara terus berbenah untuk meningkatkan kualitas pelayanan air minum bagi masyarakat. Dengan cakupan layanan mencapai 53.000 sambungan rumah (SR), perusahaan daerah tersebut kini memperkuat tata kelola, memanfaatkan teknologi digital, dan mengembangkan usaha melalui produk air minum dalam kemasan (AMDK) merek Ie Loen.
Direktur PDAM Tirta Pase, Imran, S.T., MSM, memaparkan bahwa perusahaan telah melewati perjalanan panjang sejak awal beroperasi dengan 2.084 sambungan rumah yang mengandalkan sumber air dari sumur dalam di Gampong Paya Leupah, Kecamatan Simpang Keuramat. Kini, jumlah pelanggan telah berkembang menjadi 53.000 SR, meskipun cakupan tersebut masih sekitar 25 persen dari total wilayah pelayanan di Kabupaten Aceh Utara.
Perjalanan pengembangan infrastruktur air minum di Aceh Utara diwarnai sejumlah perubahan skema investasi dan kerja sama. Pada 1989, Pemkab Aceh Utara menandatangani nota kesepahaman dengan Den Outer Management Service asal Belanda dengan nilai investasi sekitar Rp307 miliar. Namun, setelah empat tahun tidak terealisasi, kontrak tersebut dihentikan pada 28 Februari 1996.
Kerja sama kemudian dilanjutkan dengan PT Sarana Asa Putra Utama pada 1996. Akan tetapi, krisis moneter yang melanda Indonesia pada 1998 berdampak terhadap kelanjutan proyek hingga kerja sama tersebut dihentikan pada 2000.
Pembangunan infrastruktur kembali berlanjut pada 2002 melalui program PAMSUSD-P yang didanai pinjaman Asian Development Bank (ADB) melalui APBN. Program tersebut menghasilkan instalasi pengolahan air atau Water Treatment Plant (WTP) Krueng Pase berkapasitas 100 liter per detik yang diresmikan pada 2004.
Dua tahun kemudian, tepatnya 11 Maret 2006, WTP Lhoksukon berkapasitas 150 liter per detik diresmikan dan beroperasi hingga kini dengan nama Instalasi Pengolahan Air (IPA) Lhoksukon.
Memasuki fase transformasi, PDAM Tirta Pase memusatkan pembenahan pada tiga aspek, yakni penguatan tata kelola perusahaan, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), serta revitalisasi dan rekayasa ulang sistem penyediaan air minum.
Pada 2024, perusahaan menjalin kerja sama dengan BPKP Perwakilan Aceh untuk menerapkan prinsip Good Corporate Governance (GCG), dengan evaluasi berkala setiap enam bulan.
Langkah digitalisasi juga dilakukan pada 2025 melalui pembangunan Control Room berbasis SCADA (Supervisory Control and Data Acquisition). Sistem yang dikembangkan tenaga teknologi informasi lokal PDAM Tirta Pase tersebut digunakan untuk memantau operasional dan meningkatkan pengawasan terhadap 11 Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) secara waktu nyata.
Selain pembenahan operasional, perusahaan menata lahan seluas 1,3 hektare yang sebelumnya digunakan sebagai tempat penampungan lumpur menjadi ruang terbuka hijau dan kawasan wisata air. Kawasan itu dirancang sebagai sarana edukasi pelestarian sumber daya air bagi pelajar sekaligus diproyeksikan menjadi lokasi pembangunan kantor pusat PDAM Tirta Pase.
Dalam pengembangan usaha, PDAM Tirta Pase juga menghadirkan produk AMDK Ie Loen dengan tiga varian, yakni botol 300 mililiter, botol 600 mililiter, dan galon 19 liter. Imran menyebutkan, pabrik AMDK tersebut memiliki kapasitas produksi yang ditargetkan mencapai 15.000 galon per hari.
Inovasi pemasaran air minum galon melalui kerja sama dengan badan usaha milik desa (BUMDes) juga telah ditetapkan sebagai praktik baik dalam laporan Voluntary National Review (VNR) Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) oleh Bappenas pada 2025.
Meski mencatat perkembangan layanan dan inovasi usaha, Imran mengakui kinerja keuangan perusahaan sempat terdampak bencana banjir yang merusak instalasi pengolahan air, jaringan distribusi utama, jaringan distribusi bagi, hingga sambungan rumah pelanggan.
Manajemen berkomitmen melanjutkan pembenahan tata kelola dan penguatan SDM agar pemulihan infrastruktur berjalan seiring dengan peningkatan kualitas pelayanan air bersih bagi masyarakat Aceh Utara.
Penulis: Muksalmina
Editor: Dahlan









