ACEH SINGKIL — Hampir genap satu tahun berlalu sejak bencana banjir dan longsor melanda pada 2025, sejumlah infrastruktur jalan serta jembatan penghubung Kabupaten Aceh Singkil dan Aceh Selatan belum juga diperbaiki secara permanen. Hingga saat ini, masyarakat terpaksa mengandalkan jembatan darurat dari kayu hasil swadaya agar mobilitas harian dan aktivitas ekonomi antarkabupaten tetap dapat berjalan.
Kondisi memprihatinkan ini terlihat di jalur penghubung Kecamatan Kuala Baru, Aceh Singkil, menuju Kecamatan Trumon, Aceh Selatan. Keluhan tersebut disampaikan langsung oleh warga saat Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Kabupaten Aceh Singkil yang dipimpin Bupati Safriadi Oyon meninjau lokasi terdampak di Kecamatan Kuala Baru pada Selasa (1/9/2026). Peninjauan itu juga dihadiri Koordinator Wilayah Aceh II Brigjen TNI (Mar) Dr. Guslin dan Wakil Koordinator Wilayah Aceh II Kombes Pol Reinhard Reimond Huwae.
Seorang warga Kuala Baru yang berdomisili di Desa Raket, Sapriadi, mengungkapkan bahwa sedikitnya ada tiga jembatan utama di wilayah Kuala Baru yang membutuhkan penanganan mendesak:
- Jembatan Kuala Siro di Kampung Suka Jaya: Membutuhkan pembangunan ulang dengan material yang sesuai kondisi lapangan.
- Jembatan Suak Merah: Mengalami kerusakan parah sepanjang sekitar 40 meter akibat diterjang bencana pada 2025. Warga kini melintas menggunakan jembatan kayu sementara.
- Jembatan Kuala Cangkoh: Kerusakan sepanjang 30 meter yang juga diatasi secara mandiri oleh warga dengan membuat jembatan berbahan papan dan kayu.
“Jembatan-jembatan itu sangat dibutuhkan masyarakat karena merupakan akses penghubung antara Kuala Baru dengan Trumon,” jelas Sapriadi.
Ia menambahkan, masalah infrastruktur ini juga berlanjut ke arah Aceh Selatan. Terdapat sekitar tujuh jembatan lain yang membutuhkan perbaikan atau pembangunan kembali dari perbatasan menuju Aceh Selatan, salah satunya Jembatan Suak Muling di Kampung Raket, Kecamatan Trumon.
Selain jembatan darurat, kondisi jalan penghubung antarkabupaten tersebut kian memprihatinkan akibat minimnya perawatan. Arief, salah satu warga yang melintas dari Kota Singkil menuju Tapaktuan, mengeluhkan badan jalan aspal yang semakin menyempit akibat ditutupi semak belukar dan gulma liar.
“Sama sekali tidak ada perawatan. Penyempitan jalan aspal menyebabkan infrastruktur itu jadi satu meter,” ungkap Arief.
Akibat penyempitan tersebut, sejumlah titik jalan kini hanya muat dilalui kendaraan roda dua. Risiko keselamatan pengendara kian meningkat saat harus melintasi jembatan kayu darurat yang lebarnya terbatas.
Masyarakat setempat berharap kunjungan Satgas PRR tidak sekadar menjadi agenda pendataan. Sapriadi mewakili warga berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret dengan membangun infrastruktur permanen yang aman dan layak untuk menopang mobilitas masyarakat jangka panjang.
“Kalau terus menggunakan jembatan darurat seperti ini, tentu masyarakat khawatir, terutama saat membawa kendaraan dan ketika hujan,” pungkanya.
Penulis: Nazarullah
Editor: Dahlan









