BIREUEN — Banjir besar yang melanda Kabupaten Bireuen pada akhir November tahun lalu masih menyisakan luka mendalam bagi sebagian warga. Salah satunya dirasakan Ibrahim (45), warga Gampong Darussalam, Kecamatan Peusangan Selatan, yang hingga kini masih berjuang untuk sekadar memiliki tempat berteduh bersama keluarganya.
Rumah yang selama ini menjadi tempat tinggal Ibrahim dan keluarganya hanyut tersapu derasnya arus banjir. Kini, yang tersisa hanyalah puing-puing kayu dan sebidang tanah kosong. Tak memiliki pilihan lain, Ibrahim berinisiatif membangun sebuah gubuk sederhana dari sisa-sisa material rumahnya yang rubuh, sekadar untuk hunian sementara.
“Yang penting bisa ditinggali dulu, apalagi sebentar lagi masuk bulan puasa,” ujar Ibrahim saat ditemui di lokasi, Selasa (27/1/2026).
Gubuk berukuran kecil itu dibangun secara bertahap. Proses pengerjaannya sudah berlangsung selama beberapa pekan terakhir, dilakukan seorang diri tanpa bantuan tenaga ataupun material tambahan. Setiap hari, Ibrahim harus membagi waktu antara bekerja mencari nafkah dan melanjutkan pembangunan gubuk tersebut.
“Nanti saya kerjakan sebentar, setelah itu saya ke kebun,” tuturnya lirih.
Saat ini, Ibrahim bersama istri dan anak-anaknya masih menumpang di rumah kerabat. Kondisi ekonomi yang serba terbatas membuatnya tidak sanggup membangun rumah layak seperti sebelumnya. Ia mengaku keluarganya tergolong warga kurang mampu, sehingga hanya mengandalkan kemampuan sendiri untuk bertahan pascabanjir.
“Rumah ini saya kerjakan sendiri. Tidak ada bantuan apa-apa,” katanya.
Meski demikian, Ibrahim tetap menyimpan harapan. Ia berharap ada uluran tangan dari para dermawan, baik bantuan material bangunan, tenaga, maupun bentuk bantuan lainnya, agar hunian sederhananya bisa diselesaikan dan layak ditempati.
“Saya menerima apa pun yang didonasikan oleh orang-orang baik,” ucapnya penuh harap.
Kondisi yang dialami Ibrahim bukanlah satu-satunya. Hingga kini, masih terdapat sejumlah korban banjir di wilayah Peusangan Selatan yang bertahan hidup di hunian darurat dengan kondisi seadanya. Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Bireuen diketahui belum mengusulkan pembangunan hunian sementara (huntara) bagi para korban banjir.
Situasi ini menjadi potret nyata beratnya perjuangan warga pascabanjir, sekaligus menjadi pengingat bahwa pemulihan pascabencana tidak hanya soal membersihkan lumpur, tetapi juga memastikan para korban dapat kembali hidup dengan layak dan bermartabat.(**)
Editor: Dahlan









