Jakarta — Mayoritas nilai tukar mata uang Asia mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pagi ini, Jumat (30/1/2026). Pelemahan tersebut terjadi seiring dengan menguatnya dolar AS di pasar global, yang kembali menjadi pilihan utama investor di tengah ketidakpastian ekonomi dunia.
Berdasarkan data Refinitiv pada pukul 09.50 WIB, hampir seluruh mata uang di kawasan Asia terpantau bergerak melemah. Kondisi ini menunjukkan bahwa penguatan dolar AS memberikan dampak signifikan terhadap stabilitas nilai tukar negara-negara berkembang, termasuk di Asia.
Penguatan dolar AS didorong oleh meningkatnya permintaan investor global terhadap aset safe haven atau aset aman. Dalam situasi pasar yang bergejolak, dolar AS kerap menjadi mata uang yang paling diburu karena dianggap lebih stabil dibandingkan mata uang lainnya.
Tekanan terhadap mata uang Asia juga dipengaruhi oleh ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter Bank Sentral AS (Federal Reserve). Pelaku pasar masih mencermati kemungkinan suku bunga tinggi dipertahankan lebih lama, sehingga membuat dolar AS semakin kuat.
Selain itu, arus modal asing yang keluar dari pasar negara berkembang menuju instrumen keuangan berbasis dolar juga memperbesar tekanan terhadap mata uang Asia. Kondisi ini menyebabkan sebagian besar mata uang regional mengalami depresiasi dalam perdagangan hari ini.
Namun demikian, di tengah pelemahan yang meluas, terdapat satu mata uang Asia yang tercatat mampu bertahan dan tidak ikut tertekan oleh dominasi dolar AS. Hal ini menjadi perhatian karena menunjukkan adanya faktor domestik tertentu yang mampu menjaga stabilitas nilai tukar negara tersebut.
Para analis memperkirakan pergerakan mata uang Asia masih akan fluktuatif dalam beberapa hari ke depan, terutama menjelang rilis data ekonomi penting dari Amerika Serikat dan perkembangan situasi geopolitik global.
Pasar kini menanti langkah-langkah bank sentral di berbagai negara Asia untuk menjaga stabilitas mata uang, baik melalui intervensi pasar maupun kebijakan suku bunga.
Dengan penguatan dolar AS yang masih berlanjut, tekanan terhadap mata uang Asia diperkirakan tetap akan menjadi salah satu isu utama di pasar keuangan regional.(**)
Editor: Redaksi









