Home / Nasional

Jumat, 30 Januari 2026 - 11:53 WIB

Mayoritas Mata Uang Asia Melemah, Dolar AS Perkasa di Pasar Global

Redaksi

Mayoritas mata uang Asia melemah terhadap dolar AS pada perdagangan Jumat (30/1/2026), seiring penguatan greenback di pasar global dan meningkatnya permintaan investor terhadap aset aman.(Foto: REUTERS/Kim Hong-Ji)

Mayoritas mata uang Asia melemah terhadap dolar AS pada perdagangan Jumat (30/1/2026), seiring penguatan greenback di pasar global dan meningkatnya permintaan investor terhadap aset aman.(Foto: REUTERS/Kim Hong-Ji)

Jakarta — Mayoritas nilai tukar mata uang Asia mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pagi ini, Jumat (30/1/2026). Pelemahan tersebut terjadi seiring dengan menguatnya dolar AS di pasar global, yang kembali menjadi pilihan utama investor di tengah ketidakpastian ekonomi dunia.

Berdasarkan data Refinitiv pada pukul 09.50 WIB, hampir seluruh mata uang di kawasan Asia terpantau bergerak melemah. Kondisi ini menunjukkan bahwa penguatan dolar AS memberikan dampak signifikan terhadap stabilitas nilai tukar negara-negara berkembang, termasuk di Asia.

Baca Juga :  IWO Luncurkan 'Gerakan 20 Ribu Rupiah' Bantu Anggota Terdampak Banjir Bandang di Aceh, Sumut, dan Sumbar

Penguatan dolar AS didorong oleh meningkatnya permintaan investor global terhadap aset safe haven atau aset aman. Dalam situasi pasar yang bergejolak, dolar AS kerap menjadi mata uang yang paling diburu karena dianggap lebih stabil dibandingkan mata uang lainnya.

Tekanan terhadap mata uang Asia juga dipengaruhi oleh ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter Bank Sentral AS (Federal Reserve). Pelaku pasar masih mencermati kemungkinan suku bunga tinggi dipertahankan lebih lama, sehingga membuat dolar AS semakin kuat.

Baca Juga :  Kapolri Tegas Tolak Polri di Bawah Kementerian: Posisi di Bawah Presiden Sudah Ideal

Selain itu, arus modal asing yang keluar dari pasar negara berkembang menuju instrumen keuangan berbasis dolar juga memperbesar tekanan terhadap mata uang Asia. Kondisi ini menyebabkan sebagian besar mata uang regional mengalami depresiasi dalam perdagangan hari ini.

Namun demikian, di tengah pelemahan yang meluas, terdapat satu mata uang Asia yang tercatat mampu bertahan dan tidak ikut tertekan oleh dominasi dolar AS. Hal ini menjadi perhatian karena menunjukkan adanya faktor domestik tertentu yang mampu menjaga stabilitas nilai tukar negara tersebut.

Baca Juga :  Satgas Yonis 112/DJ Kodam IM Gelar Pengobatan Gratis dan Bagi Sembako di Puncak Jaya

Para analis memperkirakan pergerakan mata uang Asia masih akan fluktuatif dalam beberapa hari ke depan, terutama menjelang rilis data ekonomi penting dari Amerika Serikat dan perkembangan situasi geopolitik global.

Pasar kini menanti langkah-langkah bank sentral di berbagai negara Asia untuk menjaga stabilitas mata uang, baik melalui intervensi pasar maupun kebijakan suku bunga.

Dengan penguatan dolar AS yang masih berlanjut, tekanan terhadap mata uang Asia diperkirakan tetap akan menjadi salah satu isu utama di pasar keuangan regional.(**)

Editor: Redaksi

Share :

Baca Juga

Nasional

Perkuat Sinergi TNI-Polri, Satgas Yonif 112/DJ Gelar Rapat Koordinasi Antara Unsur Apkam di Puncak Jaya

Nasional

Kapolri Turun ke Posko Terpadu, Pastikan Kesiapan Personel Operasi Ketupat 2025

Nasional

Patroli Sambang Polsek Ternate, Lapas Perempuan Ternate Dipastikan Aman dan Kondusif

Nasional

Muzakir Manaf Minta Dukungan Pembangunan Terowongan Geurutee Kepada Menteri PPN

Berita

Dua Jenazah Warga Sipil Korban Penembakan KKB di Jayawijaya Dipulangkan ke Jawa Barat, Kaops Damai Cartenz: Kami Terus Buru Pelakunya

Nasional

Dewan Pers: Media Tidak Wajib Terverifikasi, Pakar Hukum Minta Tak Mudah Menyebut “Abal-Abal”

Nasional

Simpati Lintas Budaya, 1.520 Penari Ratoh dari Berbagai Latar Belakang Galang Dana untuk Aceh di Jakarta

Nasional

Lapas Kelas IIB Jailolo Panen Timun, WBP Diberdayakan Dukung Ketahanan Pangan