MEULABOH — Pemerintah Kabupaten Aceh Barat bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dan masyarakat menggelar shalat sunnah istisqa atau shalat meminta hujan, Rabu (28/1/2026), di halaman Masjid Agung Baitul Makmur, Meulaboh. Kegiatan ini menjadi bentuk ikhtiar spiritual di tengah kemarau panjang yang memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah.
Shalat istisqa tersebut dipimpin oleh Tgk Habiburrahman A. Hafiz sebagai imam, sementara Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh Barat, Tgk H. Mahdi Kari Us, bertindak sebagai khatib.
Wakil Bupati Aceh Barat, Said Fadheil, SH, menyampaikan bahwa pelaksanaan shalat istisqa merupakan tindak lanjut dari instruksi Bupati Aceh Barat sebagai upaya bersama memohon pertolongan Allah SWT agar segera diturunkan hujan.
“Kegiatan ini juga dilaksanakan secara serentak di tingkat kecamatan bersama Forkopimda dan seluruh elemen masyarakat,” ujar Said Fadheil.
Ia menjelaskan, pemerintah daerah bersama tim gabungan yang terdiri dari BPBD, TNI, Polri, dan unsur terkait terus berupaya maksimal memadamkan kebakaran hutan dan lahan yang terjadi selama beberapa hari terakhir. Namun, kondisi di lapangan masih cukup sulit sehingga hasil pemadaman belum sepenuhnya optimal.
“Di lapangan, setiap hari kami bersama BPBD serta TNI-Polri terus berupaya maksimal memadamkan karhutla. Namun hasilnya belum optimal, sehingga hari ini kami menempuh ikhtiar spiritual dengan melaksanakan shalat istisqa,” katanya.
Berdasarkan data terakhir, tim gabungan telah berhasil memadamkan sekitar 15 hektare lahan dari total lebih dari 20 hektare area yang terbakar. Meski demikian, proses pemadaman masih menghadapi sejumlah kendala serius.
Said Fadheil menyebutkan keterbatasan peralatan, cuaca yang sangat panas, serta sulitnya mendapatkan sumber air akibat kemarau berkepanjangan menjadi hambatan utama.
“Kondisi angin yang cukup kencang juga menyulitkan petugas, karena api cepat menyebar. Di beberapa titik, sumber air sudah mengering,” jelasnya.
Terkait upaya modifikasi cuaca, Pemkab Aceh Barat telah menyurati Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk meminta dukungan. Namun, hingga kini modifikasi cuaca belum dapat dilakukan karena salah satu syarat utama belum terpenuhi, yakni ketersediaan awan.
“Sudah sekitar 10 hari tidak ada awan, cuaca sangat terik, sehingga modifikasi cuaca belum memungkinkan,” tambahnya.
Meski demikian, Pemkab Aceh Barat tetap optimistis penanganan karhutla dapat diatasi melalui kerja sama lintas sektor. Said Fadheil mengapresiasi dukungan semua pihak, mulai dari TNI-Polri, lembaga terkait, LSM, aparat gampong, hingga masyarakat yang turut membantu proses pemadaman.
Ia berharap melalui ikhtiar lahir dan batin, bencana karhutla dapat segera teratasi dan Aceh Barat kembali diguyur hujan demi mencegah meluasnya kebakaran serta memulihkan kondisi lingkungan.(**)
Editor: Redaksi












