JAKARTA — Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyampaikan bahwa Indonesia akan kembali melakukan ekspor beras seiring dengan meningkatnya stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP). Mentan mengungkapkan bahwa ada salah satu negara yang sudah menghubungi dan meminta langsung pengiriman beras dari Indonesia.
“Ekspor (beras) ada lagi, permintaan ekspor ke salah satu negara, tunggu saja. Kemarin sudah telepon salah satu negara meminta beras,” ujar Amran saat ditemui di Kantor Kementerian Pertanian, Senin (19/10/2026).
Sebelumnya, Indonesia juga telah mengekspor beras ke beberapa negara. Meski demikian, Mentan belum membeberkan perincian daftar negara yang telah menerima pasokan beras tersebut.
Berdasarkan catatan Kontan, Indonesia sebelumnya telah mencatatkan riwayat ekspor beras, antara lain:
Malaysia: Ekspor sebanyak 1.000 ton pada Agustus 2026.
Arab Saudi: Ekspor sebanyak 2.280 ton untuk memenuhi kebutuhan jemaah haji.
Capaian Dua Tahun Pemerintahan Prabowo
Mentan Amran menyebut realisasi ekspor ini merupakan bagian dari keberhasilan sektor pertanian selama dua tahun masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Selain ekspor, indikator keberhasilan juga terlihat dari lonjakan Nilai Tukar Petani (NTP):
- Capaian NTP: Berdasarkan data BPS, NTP nasional pada September 2026 mencapai 131,11 (naik 8,62% sejak awal pemerintahan Prabowo).
- Rekor Historis: Mentan mengklaim angka NTP 131 tersebut merupakan yang tertinggi sepanjang sejarah Indonesia.
Faktor Pendorong Kesejahteraan Petani
Peningkatan NTP dan kesejahteraan petani tersebut didorong oleh dua kebijakan utama pemerintah:
1. Penurunan harga pupuk bersubsidi hingga mencapai 20%.
2. Kenaikan Harga Pembelian Gabah menjadi Rp6.500/kg.
“Sehingga kesejahteraan petani meningkat, itu otomatis. Ekspor kita 2025 juga naik Rp166 triliun, impor turun Rp41 triliun,” tegas Amran.
Penulis: Hidayat. S
Editor: Dahlan









