Banda Aceh — Perekonomian Aceh menunjukkan sinyal positif dan mulai memasuki fase pemulihan setelah menghadapi tekanan berat sepanjang tahun 2025. Hal tersebut disampaikan Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Aceh, Agus Chusaini, dalam kegiatan bincang santai bersama awak media di Tropicollo Cafe, Banda Aceh, Rabu, (21/1/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Agus mengungkapkan bahwa tahun 2025 menjadi periode yang penuh tantangan bagi perekonomian Aceh. Berbagai faktor eksternal dan internal, seperti bencana alam, gangguan infrastruktur, hingga perlambatan aktivitas ekonomi, memberikan tekanan cukup besar terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.
“Kita harus jujur mengakui bahwa 2025 merupakan tahun yang berat bagi Aceh. Banyak tantangan yang kita hadapi, mulai dari bencana alam hingga gangguan distribusi dan infrastruktur. Namun, saat ini kita sudah mulai melihat tanda-tanda pemulihan ekonomi,” ujar Agus.
Menurutnya, sejumlah indikator ekonomi mulai menunjukkan perbaikan, baik dari sisi konsumsi rumah tangga, aktivitas perdagangan, maupun stabilitas harga. BI mencatat adanya peningkatan pergerakan ekonomi di beberapa sektor unggulan Aceh, terutama sektor pertanian, perdagangan, dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Agus menjelaskan bahwa pemulihan ekonomi Aceh tidak lepas dari sinergi berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, pelaku usaha, perbankan, hingga masyarakat. Berbagai kebijakan stimulus dan penguatan sektor riil yang dilakukan sepanjang akhir 2025 dinilai mulai memberikan dampak positif.
Selain itu, Bank Indonesia juga terus mendorong penguatan sistem pembayaran digital dan inklusi keuangan di Aceh sebagai bagian dari strategi mempercepat pemulihan ekonomi daerah. Digitalisasi transaksi dinilai mampu meningkatkan efisiensi, memperluas akses pasar bagi UMKM, serta menjaga stabilitas sistem keuangan.
Meski demikian, Agus mengingatkan bahwa proses pemulihan masih perlu terus dijaga dan diperkuat. Ia menilai kewaspadaan tetap diperlukan, terutama terhadap potensi risiko global dan tantangan struktural di tingkat daerah.
“Kita optimistis, namun tetap harus waspada. Pemulihan ekonomi ini harus kita jaga bersama agar berkelanjutan dan inklusif, sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat Aceh,” tegasnya.
Ke depan, BI Aceh berkomitmen untuk terus berperan aktif dalam mendukung pertumbuhan ekonomi daerah melalui kebijakan moneter yang stabil, penguatan UMKM, serta peningkatan literasi dan inklusi keuangan sebagai fondasi menuju ekonomi Aceh yang lebih kuat dan berdaya saing.(**)
Editor: Redaksi












