Jakarta – Menteri Luar Negeri Sugiono menegaskan keterlibatan Indonesia dalam Pasukan Stabilisasi Internasional atau International Stabilization Force (ISF) bukan untuk menjalankan operasi militer di Jalur Gaza, melainkan untuk mendukung misi kemanusiaan dan perlindungan warga sipil.
Sugiono menyatakan pasukan Indonesia tidak akan terlibat dalam konflik bersenjata maupun upaya pelucutan kelompok bersenjata. Namun, pasukan tetap memiliki aturan keterlibatan (rule of engagement) untuk mempertahankan diri jika mendapat serangan.
“Tentu saja ada hal-hal yang sifatnya merupakan Rule of Engagement yang bisa kita lakukan sebagai pasukan apabila diserang, dalam rangka mempertahankan diri,” kata Sugiono dalam keterangan pers daring, Sabtu (21/2/2026).
Ia menambahkan, kontribusi Indonesia dalam ISF difokuskan pada perlindungan masyarakat sipil di kedua pihak, baik warga Palestina maupun Israel.
Indonesia telah berkomitmen mengirimkan sekitar 8.000 prajurit ke Gaza, jumlah terbesar dibanding negara lain yang terlibat. Secara keseluruhan, pasukan gabungan ISF diperkirakan mencapai 20.000 personel.
Rencana pengiriman pasukan tersebut dibahas dalam rapat perdana Dewan Perdamaian (Board of Peace) yang digelar di Washington, D.C., Amerika Serikat, dan dihadiri Presiden Prabowo Subianto serta Ketua Komite Nasional untuk Administrasi Gaza (NCAG) Ali Shaath.
Direktur Jenderal Dewan Perdamaian, Nickolay Mladenov, menyatakan proses rekonstruksi Gaza bergantung pada pelucutan senjata di wilayah tersebut.
“Tidak ada pilihan lain kecuali demiliterisasi penuh dan pelucutan semua senjata di Gaza agar rekonstruksi dapat dimulai,” ujarnya.
Sementara itu, kelompok bersenjata Palestina Hamas menolak tuntutan pelucutan senjata dan intervensi asing. Pernyataan tersebut disampaikan oleh pemimpin senior Hamas, Khaled Meshaal, dalam konferensi di Doha.(Sumber: Tempo)
Editor: Dahlan









