Banda Aceh – Kota Banda Aceh mencatat sejarah baru dalam upaya penguatan kesiapsiagaan menghadapi bencana dengan menjadi tuan rumah puncak peringatan Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) 2026 yang digelar pada Minggu, 26 April 2026. Kegiatan yang dipusatkan di Pendopo Wali Kota Banda Aceh itu berlangsung meriah sekaligus sarat makna, sebagai simbol kuat membangun budaya sadar bencana di tengah masyarakat.
Acara tersebut dipimpin langsung oleh Kepala
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal, serta dihadiri jajaran pemerintah daerah, unsur Forkopimda, relawan kebencanaan, pelajar, komunitas siaga bencana, hingga seluruh aparatur sipil negara (ASN) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Banda Aceh.
Peringatan HKB 2026 mengusung semangat memperkuat kesiapsiagaan masyarakat melalui kolaborasi lintas sektor dan aksi nyata mitigasi bencana. Banda Aceh dinilai menjadi daerah yang tepat untuk menggelar puncak kegiatan nasional tersebut mengingat sejarah panjang daerah itu dalam menghadapi berbagai bencana, termasuk tsunami Aceh 2004 yang menjadi pelajaran besar bagi dunia.
Suasana khidmat sekaligus penuh semangat terlihat sejak pagi hari. Ribuan peserta mengikuti rangkaian kegiatan mulai dari apel kesiapsiagaan, simulasi evakuasi mandiri, edukasi kebencanaan, hingga aksi hijau mitigasi lingkungan.
Momen paling menarik terjadi saat bunyi sirine peringatan menggema bersamaan dengan tabuhan rapai khas Aceh yang menandai dimulainya simulasi evakuasi mandiri. Dalam hitungan menit, peserta diarahkan menuju titik aman sesuai prosedur mitigasi yang telah ditentukan. Simulasi tersebut menjadi simbol penting bahwa kesiapsiagaan harus menjadi budaya yang tertanam dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.
Selain simulasi evakuasi, kegiatan juga dirangkai dengan aksi hijau mitigasi melalui penanaman pohon di sejumlah titik strategis sebagai upaya memperkuat ketahanan lingkungan dan mengurangi risiko bencana di masa mendatang.
Langkah itu sekaligus menegaskan bahwa mitigasi tidak hanya berbicara soal tanggap darurat, tetapi juga tentang menjaga keseimbangan alam.
Kepala BPBD Kota Banda Aceh Cut Ahmad Putra mengatakan bahwa penunjukan Banda Aceh sebagai tuan rumah puncak HKB 2026 menjadi kehormatan sekaligus tanggung jawab besar bagi pemerintah daerah dalam memperkuat sistem penanggulangan bencana yang lebih adaptif dan responsif.
Menurutnya, kesiapsiagaan tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah, tetapi harus menjadi gerakan bersama yang melibatkan seluruh elemen masyarakat.
“Hari Kesiapsiagaan Bencana bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi momentum untuk memperkuat kesadaran kolektif bahwa daerah kita memiliki potensi risiko bencana yang harus dihadapi dengan kesiapan, pengetahuan, dan kolaborasi. Banda Aceh ingin menjadi contoh kota yang tangguh, cepat beradaptasi, dan memiliki budaya siaga yang kuat,” ujar Cut Ahmad Putra.
Ia juga menambahkan bahwa edukasi kebencanaan akan terus diperluas hingga ke sekolah-sekolah, gampong, dan komunitas masyarakat agar kemampuan mitigasi dapat dimiliki seluruh lapisan warga.
Sementara itu, Wali Kota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal menegaskan bahwa pemerintah kota terus berkomitmen membangun sistem penanggulangan bencana yang modern, berbasis teknologi, dan melibatkan partisipasi aktif masyarakat.
Peringatan HKB 2026 di Banda Aceh diharapkan tidak hanya menjadi agenda seremonial nasional, tetapi juga memperkuat pesan bahwa kesiapsiagaan adalah investasi keselamatan bagi masa depan masyarakat Indonesia. (ADV)
Editor: Redaksi









