Jakarta — Setelah berbulan-bulan terlibat dalam ketegangan politik dan saling serang menggunakan rudal serta pesawat tanpa awak (drone), Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara mengejutkan menandatangani kesepakatan damai dengan Iran. Prosesi penandatanganan tersebut dilakukan dalam sebuah jamuan makan malam resmi di Versailles, Prancis.
Meskipun tidak menghadiri langsung pertemuan di Prancis tersebut, Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, turut membubuhkan tanda tangannya secara terpisah langsung dari Teheran, Iran.
Kendati kesepakatan telah ditandatangani, sejumlah analis politik menilai bahwa pertemuan yang sempat bergulir di Swiss ini masih jauh dari kata akhir. Meja perundingan tersebut dinilai masih menyisakan pertanyaan besar mengenai bentuk nyata dari “sejarah” yang akan tercipta ke depan.
Tuntutan Timbal Balik dan Komitmen Nuklir Iran
Merespons dinamika tersebut, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Ismaeil Baqaei, menegaskan bahwa kepatuhan negaranya terhadap komitmen nuklir sangat bergantung pada dua syarat utama, yaitu:
Pemenuhan kewajiban oleh pihak Amerika Serikat.
Penghentian aksi perang di Lebanon oleh pihak Israel.
Baqaei menyatakan bahwa Iran menuntut adanya timbal balik atas hak nuklir mereka berdasarkan Non-Proliferation Treaty (NPT) dan mengancam akan melakukan tindakan balasan jika tuntutan tersebut diabaikan.
Apresiasi dan Peringatan dari Wakil Ketua MPR RI
Kesepakatan damai AS-Iran yang dimediasi oleh Pakistan, Qatar, dan Arab Saudi ini mendapat dukungan penuh dari Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR RI), Dr. H. M. Hidayat Nur Wahid (HNW).
“Kita tentu berterima kasih dan mengapresiasi tinggi prakarsa Pakistan, Qatar, dan Arab Saudi yang efektif bergerak sehingga naskah perdamaian bisa disetujui dan ditandatangani,” ujar HNW melalui siaran pers di Jakarta, Jumat (19/6), dilansir dari laman resmi MPR RI.
Namun, politisi dari Partai Keadilan Sukahtra (PKS) ini mengingatkan agar perjanjian perdamaian yang telah ditandatangani secara terbuka dan disaksikan oleh publik dunia tersebut benar-benar dijalankan oleh semua pihak sesuai dengan tahapan yang telah disepakati.
Waspadai Manuver Israel dan Dampak Ekonomi Global
Secara khusus, HNW menekankan pentingnya dunia internasional mewaspadai manuver-manuver militer Israel di Lebanon yang dinilai berpotensi merusak dan menggagalkan perjanjian damai ini. Menurutnya, ketegasan AS sangat diperlukan untuk menghentikan aksi Israel tersebut.
Ada beberapa poin krusial yang diharapkan dapat terwujud pasca-kesepakatan damai ini, di antaranya:
Mencegah Krisis Global: Menghindarkan dunia dari ancaman krisis politik yang lebih besar serta potensi Perang Dunia Ketiga.
Pemulihan Ekonomi & Selat Hormuz: Memulihkan perekonomian dunia melalui pembukaan kembali Selat Hormuz yang sempat ditutup selama konlik. Pembukaan ini diharapkan mampu menurunkan harga minyak dunia yang selama ini membebani banyak negara, termasuk Indonesia.
Fokus pada Kemerdekaan Palestina: Memungkinkan dunia internasional kembali fokus menghentikan pelanggaran gencatan senjata oleh Israel di Gaza, memperbaiki kondisi kemanusiaan di sana, hingga merealisasikan perdamaian menyeluruh dengan merdekanya Palestina.
Di akhir keterangannya, HNW berharap Pemerintah Indonesia dapat terus memainkan peran aktif dalam politik luar negeri demi terciptanya perdamaian dunia dan kemerdekaan Palestina, sembari tetap fokus menyelesaikan berbagai permasalahan domestik di dalam negeri.
Editor: Redaksi









