Home / Wali Nanggroe aceh

Jumat, 14 Agustus 2026 - 09:04 WIB

Jelang 21 Tahun MoU Helsinki, Wali Nanggroe Aceh Serukan Pesan Damai dan Tolak Provokasi

REDAKSI

Wali Nanggroe Aceh, Teungku Malik Mahmud Al Haythar, mengajak seluruh rakyat Aceh menjadikan 15 Agustus 2026 sebagai momentum memperkuat persaudaraan dan menjaga perdamaian, Jumat 14/08/2026.

Wali Nanggroe Aceh, Teungku Malik Mahmud Al Haythar, mengajak seluruh rakyat Aceh menjadikan 15 Agustus 2026 sebagai momentum memperkuat persaudaraan dan menjaga perdamaian, Jumat 14/08/2026.

BANDA ACEH — Menjelang peringatan Hari Damai Aceh ke-21 yang jatuh pada 15 Agustus 2026, Wali Nanggroe Aceh, Paduka Yang Mulia Teungku Malik Mahmud Al Haythar, mengeluarkan seruan resmi kepada seluruh lapisan masyarakat, Jumat (14/8/2026)

Seruan ini menjadi pengingat sekaligus ajakan bagi rakyat Aceh untuk terus menjaga stabilitas dan merawat warisan perdamaian yang telah berjalan lebih dari dua dekade, seruan tersebut mengusung tema besar “Menjaga Perdamaian, Merawat Persaudaraan, dan Membangun Masa Depan Aceh Bersama”.

​“Saya mengajak seluruh masyarakat Aceh untuk menjadikan momentum bersejarah ini sebagai saat yang penuh makna untuk memperkuat persaudaraan, menjaga ketenteraman, serta memperteguh komitmen bersama dalam merawat perdamaian yang telah menjadi fondasi utama kehidupan masyarakat Aceh selama lebih dari dua dekade,” tegas Teungku Malik Mahmud.

​Wali Nanggroe mengingatkan kembali bahwa tanggal 15 Agustus merupakan penanda sejarah yang sangat krusial. Pada 15 Agustus 2005 silam, Pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) resmi menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) di Helsinki, Finlandia.

Baca Juga :  Buka Mubes MAA 2026, Wali Nanggroe: Pemulihan Aceh Tak Cukup Fisik, Adat Fondasinya

​Menurutnya, kesepakatan bersejarah tersebut lahir dari kebesaran jiwa, keberanian, dan kebijaksanaan para pemimpin kedua belah pihak yang sepakat meletakkan senjata dan memilih jalan dialog demi masa depan Aceh.

​MoU Helsinki, lanjutnya, bukan sekadar dokumen pengakhiran konflik bersenjata yang berkepanjangan. Lebih dari itu, kesepakatan tersebut telah membuka ruang luas bagi proses rekonsiliasi, pembangunan, dan demokratisasi.

​”Dialog dan perdamaian yang diwujudkan melalui penandatanganan MoU Helsinki menjadi titik balik yang membuka jalan bagi lahirnya kepercayaan dan perhatian masyarakat internasional terhadap Aceh,” ungkap Wali Nanggroe.

​Kepercayaan dunia internasional ini terbukti menjadi kunci saat Aceh harus bangkit dari keterpurukan. Bantuan kemanusiaan dari berbagai negara mengalir deras untuk membantu rakyat Aceh memulihkan kehidupan sosial, ekonomi, serta membangun kembali infrastruktur yang luluh lantak, khususnya pasca-bencana gempa dan tsunami.

Baca Juga :  Wali Nanggroe Tinjau Korban Banjir dan Longsor, Pastikan Penanganan Pasca-Bencana Berjalan Serius

​Memasuki usia ke-21 tahun perdamaian, Aceh telah mencatat berbagai transformasi signifikan. Pertumbuhan ekonomi, perbaikan kualitas pendidikan, pelayanan kesehatan, hingga penguatan tata kelola pemerintahan terus menampakkan hasil dari kondusivitas wilayah yang terjaga.

​Namun, perjalanan merawat damai tidak lepas dari ujian berat. Wali Nanggroe secara khusus menyoroti musibah bencana hidrometeorologi dahsyat yang melanda banyak wilayah di Aceh pada 26 November 2025 lalu. Bencana tersebut menimbulkan kerusakan parah, kerugian materiil, hingga penderitaan bagi masyarakat luas.

​Meski demikian, kondisi tersebut justru memperlihatkan kedewasaan masyarakat Aceh. Semangat perdamaian yang telah mengakar kuat terbukti mampu melahirkan kekuatan baru berupa solidaritas dan kepedulian antarsesama. Sikap gotong royong inilah yang menjadi modal utama masyarakat Aceh untuk kembali bangkit pasca-bencana.

​Atas nama Lembaga Wali Nanggroe Aceh, Paduka Yang Mulia menyampaikan penghormatan dan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh pihak yang secara konsisten menjaga nyala perdamaian. Ucapan terima kasih tersebut ditujukan kepada para tokoh perdamaian, ulama, akademisi, mantan kombatan, aparat keamanan, jajaran pemerintah, organisasi kemasyarakatan, kelompok pemuda dan perempuan, serta seluruh rakyat Aceh.

Baca Juga :  Wali Nanggroe Aceh Terima Kunjungan Wakil Dubes Belanda: Bahas Penguatan Sinergi Pembangunan Jangka Panjang

​”Perdamaian adalah warisan bersama yang harus terus dirawat sebagai amanah lintas generasi,” tegasnya.

​Menutup seruannya, Wali Nanggroe menitipkan pesan krusial agar peringatan 15 Agustus tahun ini dijadikan sebagai momentum refleksi, rasa syukur, sekaligus mempercepat pembangunan yang adil dan inklusif. Secara khusus, ia memperingatkan masyarakat untuk mewaspadai segala bentuk ancaman perpecahan.

​”Saya mengajak seluruh masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh pihak atau unsur mana pun yang berpotensi mengganggu stabilitas, menebarkan kebencian, memecah belah persaudaraan, atau mengusik perdamaian Aceh yang selama ini telah terpelihara dengan sangat baik,” pungkas Teungku Malik Mahmud Al Haythar.  [Adv]

Editor: Redaksi

Share :

Baca Juga

Wali Nanggroe aceh

Buka Mubes MAA 2026, Wali Nanggroe: Pemulihan Aceh Tak Cukup Fisik, Adat Fondasinya

Wali Nanggroe aceh

Wali Nanggroe Tinjau Korban Banjir dan Longsor, Pastikan Penanganan Pasca-Bencana Berjalan Serius

Wali Nanggroe aceh

Wali Nanggroe Aceh Terima Kunjungan Wakil Dubes Belanda: Bahas Penguatan Sinergi Pembangunan Jangka Panjang

Wali Nanggroe aceh

Wali Nanggroe Susun Regulasi Hutan Adat & Pertambangan: Lindungi Masyarakat Adat, Cegah Bencana