BANDA ACEH — Kepala Dinas Pendidikan Dayah Aceh, Dr. H. Muhsin Thahir, S.Ag., M.Ag., menegaskan pentingnya peran strategis santri dalam menjaga stabilitas agama dan sosial di kawasan terluar. Hal tersebut disampaikannya saat membuka kegiatan pembekalan santri di Banda Aceh, Kamis (20/08/2026).
Dalam arahannya, Muhsin menekankan bahwa dinamika sosial di daerah perbatasan Aceh memerlukan perhatian khusus. Para lulusan dayah diharapkan tidak hanya berperan di wilayah perkotaan, tetapi juga siap mengabdi di daerah perbatasan untuk memperkuat pemahaman agama masyarakat lokal.
Muhsin Thahir memaparkan sejumlah poin utama terkait peran vital santri sebagai benteng akidah di wilayah perbatasan Aceh:
Menjaga Pemahaman Keagamaan: Santri bertugas benteng utama dalam mengawal akidah umat dari ancaman pemikiran radikal, pemahaman menyimpang, serta pendangkalan agama di daerah terluar.
Penguatan Sosial dan Edukasi: Selain mengajar kitab, santri dituntut menjadi pilar perekat masyarakat melalui pendekatan dakwah yang ramah, santun, dan menyejukkan.
Ketahanan Budaya Islami: Kehadiran alumni dayah di perbatasan menjadi kunci dalam mempertahankan kearifan lokal serta pelaksanaan Syariat Islam yang kuat di seluruh pelosok Aceh.
Pemerintah Aceh melalui Dinas Pendidikan Dayah terus berkomitmen mengalokasikan program pendampingan, peningkatan kapasitas alumni, dan pengiriman tenaga pengajar islami ke daerah-daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar). Langkah ini diambil guna memastikan pemerataan kualitas pendidikan keagamaan di seluruh kabupaten/kota.
Kegiatan pembekalan tersebut diakhiri dengan diskusi interaktif bersama para pimpinan dayah dan calon dai muda yang akan ditempatkan di beberapa titik perbatasan Aceh. Melalui komitmen ini, para alumni dayah diharapkan mampu menjalankan peran sejarahnya sebagai pengawal akidah sekaligus penggerak pembangunan karakter bangsa. [Adv]
Editor: Redaksi











