MEULABOH — Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Aceh Barat memberangkatkan 14 orang delegasi untuk menghadiri Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35. Perhelatan tertinggi lima tahunan tersebut dijadwalkan berlangsung pada 27–31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.
Keberangkatan rombongan ini menjadi bentuk ikhtiar PCNU Aceh Barat untuk menyampaikan aspirasi warga Nahdliyyin daerah di forum nasional. Delegasi yang dikirim mencakup representasi dari jajaran Tanfidziyah, Syuriah, lembaga, hingga Badan Otonom (Banom) NU.
Mengusung tema “Menjaga Marwah, Memperkaya Khidmat untuk Kemaslahatan Bangsa,” Muktamar kali ini diharapkan menjadi landasan dalam memperkuat kontribusi NU bagi umat, masyarakat, dan negara.
standard moral dan etika organisasi turut ditekankan oleh Ketua Tanfidziyah PCNU Aceh Barat, Dr. H. Khairul Azhar, M.A. Dalam keterangannya pada Selasa (25/8/2026), sosok yang akrab disapa Waled Khairul ini mengingatkan jajarannya untuk senantiasa menjaga nama baik organisasi.
“Ini acara besar lima tahun sekali. Saya berpesan agar seluruh peserta menjaga marwah NU dan menjaga kondusivitas selama Muktamar berlangsung. Kita harus malu kepada para muassis NU,” tegas Waled Khairul.
Ia menambahkan bahwa perbedaan pandangan merupakan bagian dari dinamika berorganisasi yang wajar, namun tidak boleh sampai merusak tali persaudaraan dan semangat persatuan antarwarga NU.
Pada Muktamar ke-35 ini, PCNU Aceh Barat mendorong lahirnya kepengurusan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang lebih responsif. Beberapa poin strategis yang diharapkan mendapat perhatian meliputi:
- Tata kelola organisasi dan sistem kaderisasi.
- Penguatan pendidikan pesantren.
- Kemandirian ekonomi serta pemberdayaan masyarakat.
- Peran aktif NU dalam merawat persatuan bangsa.
Senada dengan hal tersebut, Sekretaris Tanfidziyah PCNU Aceh Barat, Aduwina Pakeh, menilai Muktamar sebagai ajang konsolidasi dan silaturahmi berskala nasional. Ia berharap para utusan dapat bermusyawarah dengan jernih dan membawa pulang semangat baru untuk mengabdi di daerah.
“Datang membawa aspirasi, bermusyawarah dengan hati yang jernih, dan pulang membawa semangat untuk meningkatkan pengabdian kepada NU. Siapa pun yang mendapatkan amanah kepemimpinan nantinya, seluruh warga NU dapat kembali bersatu,” tutur Aduwina.
Aduwina menyimpulkan bahwa perselisihan atau perbedaan pilihan selama forum adalah hal lumrah, tetapi persatuan sebagai keluarga besar Nahdlatul Ulama harus tetap menjadi prioritas utama setelah perhelatan usai.
Editor: Dahlan











