Home / Daerah

Senin, 12 Oktober 2026 - 17:27 WIB

Memasuki Musim Hujan, Satgas PRR Minta Warga Aceh Waspada Potensi Bencana

REDAKSI

Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatra meminta warga di daerah rawan bencana di Aceh meningkatkan kewaspadaan di musim hujan.

Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatra meminta warga di daerah rawan bencana di Aceh meningkatkan kewaspadaan di musim hujan.

BANDA ACEH — Memasuki musim hujan, Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatra meminta masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana di Aceh untuk meningkatkan kewaspadaan. Sejumlah proyek pemulihan pascabencana saat ini masih berlangsung, sementara curah hujan tinggi berpotensi memicu banjir dan menghambat pembangunan.

Kepala Posko Wilayah (Kaposwil) Aceh Satgas PRR, Safrizal, mengatakan proses rehabilitasi dan rekonstruksi di sejumlah wilayah Aceh menghadapi tantangan baru seiring masuknya musim hujan. Infrastruktur yang belum selesai dibangun juga belum sepenuhnya mampu mengantisipasi ancaman banjir.

“Kita memang sedang melakukan rehabilitasi dan rekonstruksi dalam berbagai sektor, tetapi dalam kesempatan yang sama ini sudah memasuki musim hujan. Rekonstruksinya belum selesai, ada tantangan baru dengan potensi curah hujan yang cukup tinggi,” kata Safrizal, Senin (12/10/2026).

Baca Juga :  Peringati Hari Lingkungan Hidup dan Sambut Idul Adha, DLH Aceh Besar Bersihkan Lingkungan Masjid Al-Munawwarah Kota Jantho

Imbauan Peringatan Dini dan Kesiapsiagaan Petugas

Safrizal meminta masyarakat di daerah rawan bencana untuk aktif memantau informasi peringatan dini dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Warga juga diminta segera menyelamatkan diri ke lokasi aman yang telah disiapkan aparat setempat apabila terjadi keadaan darurat.

Selain itu, ia turut mengingatkan petugas di lapangan agar meningkatkan kesiapsiagaan dan merespons cepat setiap laporan kedaruratan untuk membantu masyarakat terdampak.

“Kalau terjadi peringatan darurat, segera menyelamatkan diri di tempat-tempat yang sudah disiapkan oleh aparatur. Jadi, sekali lagi, perhatikan early warning dari BMKG yang memberikan kita informasi setiap hari,” ujarnya.

Proyek Pengendalian Banjir dan Pembangunan Sabo Dam

Di sisi lain, pembangunan infrastruktur pengendalian banjir masih berlangsung di sejumlah sungai, termasuk:

  •  Krueng Peusangan
  •  Sungai di Aceh Tamiang
  •  Wilayah Aceh Utara
Baca Juga :  Pemkab Abdya Lanjutkan Pembangunan Pasar Modern Blangpidie yang Mangkrak 9 Tahun

Pekerjaan tersebut mencakup penanganan sungai dari hulu hingga hilir serta pembangunan sabo dam untuk mengendalikan aliran air. Safrizal menjelaskan, sabo dam merupakan bangunan pengendali aliran air yang dirancang menahan dan memperlambat aliran secara bertahap. Dalam satu alur sungai, beberapa bangunan dapat dibuat untuk membantu mengendalikan aliran air.

Pembangunan sabo dam di kawasan Aceh Tamiang dan Krueng Peusangan masih dalam tahapan pengerjaan. Khusus di Krueng Peusangan, terdapat empat sabo dam yang direncanakan membentang dari wilayah Aceh Tengah hingga kawasan hilir.

Namun, tahapan pembangunan setiap bangunan berbeda-beda:

  •  Sebagian masih dalam proses lelang.
  •  Sebagian pekerjaan lainnya mulai dilaksanakan di lapangan.

Oleh karena itu, infrastruktur tersebut belum seluruhnya dapat difungsikan untuk mengantisipasi peningkatan debit air ketika hujan lebat terjadi. Safrizal menambahkan, pembangunan infrastruktur pengendalian banjir membutuhkan waktu dan tidak seluruhnya dapat diselesaikan dalam satu tahun anggaran.

Baca Juga :  Satgas Yonif 112/DJ Kodam Iskandar Muda gelar Karya Bakti di Wondenggobak Puncak Jaya

Potensi Keterlambatan Proyek Akibat Hujan

Selain menjadi ancaman bagi masyarakat, kenaikan permukaan air sungai juga berpotensi menghambat pekerjaan rehabilitasi dan rekonstruksi, terutama pembangunan tebing sungai yang masih berlangsung di sejumlah daerah. Kondisi tersebut menjadi tantangan di beberapa wilayah, termasuk Gayo Lues, Bener Meriah, dan kawasan Krueng Peusangan.

“Kita berharap ini tidak berlama-lama, karena akan membuat proyek pekerjaan tebing itu menjadi ter-delay,” kata Safrizal.

Ia berharap tim teknis di lapangan mampu mengantisipasi dampak hujan agar pekerjaan rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana tidak mengalami keterlambatan berkepanjangan. Di tengah proses pemulihan yang belum tuntas, kewaspadaan masyarakat dan kesiapsiagaan petugas dinilai sangat penting untuk mengurangi risiko bencana selama musim hujan.

Penulis: Hidayat. S

Editor: Dahlan

Share :

Baca Juga

Daerah

Prajurit Kodam IM bantu Penanganan Banjir yang merendam Dua Kecamatan di Pidie Jaya

Daerah

Tidak Tepat Sasaran, Pemkab Aceh Tengah Diminta Buka Data Penerima Bantuan Rumah Layak Huni

Daerah

Satu Jam yang Menegangkan di Depan BSI Lhoknga: Ketika Tumpahan CPO Nyaris Menelan Korban

Daerah

Hadiri Launching KMM, Wabup Aceh Barat: Klinik Kesehatan Cukup Membantu Pemerintah

Daerah

Pangdam IM Hadiri Penyaluran Bantuan Pangan Beras di Aceh

Daerah

Dosen Unimal Kembangkan Detektor Ikan Berenergi Surya untuk Nelayan Tradisional Aceh Utara

Daerah

Santuni 1.852 Anak Yatim dan Piatu, Sibral Malasyi : Menyantuni Mereka Merupakan Ajaran Rosulallah

Daerah

Supervisi Dit Lantas Polda Aceh di Polres Lhokseumawe Tingkatkan Kinerja Lalu Lintas