JAKARTA — Sebaran asap yang dipicu oleh kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan serta Sumatera bagian Selatan kini terpantau melingkupi 27 wilayah provinsi di Indonesia per Sabtu (17/10/2026).
Berdasarkan data pemantauan citra Satelit Himawari 9 SM milik Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada pukul 08.00 WIB, paparan asap membentang mulai dari Pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga ke wilayah Papua.
Melintasi Batas Negara
Tak hanya meluas di dalam negeri, pergerakan asap juga tercatat menyeberangi batas wilayah antarnegara. BMKG mendeteksi aliran asap dari Sumatera mengarah ke Semenanjung Malaysia dan Singapura. Sementara itu, asap dari Kalimantan bergerak menuju ke Sarawak, Semenanjung Malaysia, serta Singapura.
Di wilayah timur, asap yang berasal dari Papua Nugini terdeteksi bergerak masuk hingga ke area Papua Selatan. Kondisi ini memperlihatkan bahwa dampak karhutla kini berpotensi memengaruhi negara-negara tetangga.
Rincian 27 Provinsi Terdampak
Berikut adalah daftar wilayah provinsi yang terdeteksi terpapar sebaran asap:
Sumatera & Banten: Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Kepulauan Riau, Bengkulu, Kepulauan Bangka Belitung, Sumatera Selatan, Lampung, serta Banten.
Kalimantan: Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara.
Sulawesi: Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Tengah.
Indonesia Timur: Maluku, Maluku Utara, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan.
Arah Pergerakan Asap dan Dinamika Angin
Berdasarkan analisis citra BMKG, pergerakan asap di sebagian besar kawasan Indonesia secara umum mengalir ke arah Barat Laut hingga Timur Laut. Khusus untuk wilayah Banten, pergerakan asap justru terpantau mengarah ke Tenggara hingga Barat Daya.
Kondisi tersebut sejalan dengan catatan BMKG terkait arah angin di Indonesia yang umumnya berembus dari arah Timur hingga Tenggara menuju ke Barat Laut hingga Utara.
BMKG menekankan bahwa peta arah sebaran asap dan angin merupakan aspek krusial dalam memantau potensi perpindahan asap antarwilayah. Meski demikian, titik sebaran asap yang terpantau di suatu daerah tidak selalu berorientasi langsung dari titik kebakaran tertentu di lokasi tersebut.
Imbauan untuk Masyarakat
Data citra yang dirilis menggambarkan kondisi atmosfer spesifik pada Sabtu pagi pukul 08.00 WIB. Dinamika sebaran asap dapat terus berubah sewaktu-waktu menyusul perubahan pola angin dan kondisi cuaca setempat.
Bagi masyarakat yang berada di wilayah terdampak penurunan kualitas udara, diimbau untuk terus memantau pembaruan informasi resmi dari BMKG serta Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU). Jika kualitas udara memburuk, warga disarankan membatasi aktivitas fisik di luar ruangan dan wajib menggunakan masker yang mampu menyaring partikel halus saat terpaksa beraktivitas di luar rumah.
Penulis: Nazarullah
Editor: Dahlan









