JAKARTA — Peluang kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI-Rate) diperkirakan masih terbuka pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung pada Oktober 2026.
Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA), David Sumual, menyampaikan bahwa Bank Indonesia masih memiliki ruang untuk menaikkan suku bunga acuannya dalam RDG mendatang.
“Ada ruang dan peluang kenaikan BI Rate pada RDG,” ujar David kepada Kontan, Minggu (18/10/2026).
Faktor Eksternal dan Tekanan Inflasi
David menjelaskan, salah satu faktor utama yang perlu dicermati adalah ekspektasi kenaikan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) pada akhir tahun. Jika ekspektasi tersebut terealisasi, kenaikan suku bunga AS berpotensi memengaruhi pergerakan arus modal global sekaligus menambah tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Selain itu, tingginya harga minyak dunia juga menjadi fokus perhatian. Lonjakan harga minyak dapat meningkatkan tekanan inflasi, terutama melalui kenaikan biaya energi dan transportasi. Kondisi ini berpotensi mempersulit upaya pemerintah dan otoritas moneter dalam menjaga stabilitas harga di dalam negeri.
Risiko Imported Inflation dan Proyeksi Kenaikan
Di sisi lain, tekanan terhadap rupiah menjadi pertimbangan penting bagi Bank Indonesia dalam menentukan arah kebijakan suku bunga. Pergerakan nilai tukar yang terus tertekan berisiko memicu imported inflation, yaitu inflasi yang disebabkan oleh tingginya harga barang-barang impor.
Kombinasi berbagai faktor eksternal tersebut membuat ruang penyesuaian suku bunga acuan tetap terbuka, terutama apabila tekanan terhadap rupiah dan ekspektasi inflasi semakin meningkat.
Mengenai besaran penyesuaian hingga akhir tahun, David memperkirakan BI berpeluang menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin (bps) hingga 50 bps.
Penulis: Hidayat. S
Editor: Dahlan









