JAKARTA — Partai Gerindra mengkritik laporan evaluasi dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang dirilis oleh Center of Economic and Law Studies (Celios). Gerindra menilai laporan tersebut tidak objektif dan memuat tuduhan tanpa bukti terkait dampak kebijakan pemerintah terhadap masyarakat.
Juru Bicara Partai Gerindra, Sugiat Santoso, menegaskan bahwa penyesuaian kebijakan fiskal dan ekonomi yang diambil pemerintah berorientasi pada penyelamatan fondasi keuangan negara dalam jangka panjang.
“Dinamika penyesuaian kebijakan fiskal dan ekonomi yang ditempuh pemerintah semata-mata dilakukan untuk menyelamatkan fondasi keuangan jangka panjang negara,” kata Sugiat dalam keterangannya di Jakarta, Selasa, 13 Oktober 2026.
Bantahan Terhadap Klaim Celios
Sugiat menilai klaim Celios yang menyebut 75 persen responden mengalami stres akibat kebijakan pemerintah sebagai bentuk dramatisasi yang berlebihan terhadap proses penyesuaian ekonomi. Ia menekankan bahwa Presiden Prabowo bertugas menjalankan perubahan nyata demi kesejahteraan rakyat, bukan untuk menyenangkan pengamat.
Mengenai tuduhan pembatasan kebebasan sipil, Anggota DPR RI Fraksi Gerindra ini menegaskan bahwa demokrasi di Indonesia tetap berjalan terbuka. Hal itu terbukti dari masih bebasnya masyarakat dan lembaga menyampaikan kritik, termasuk melalui publikasi riset Celios. Terkait penegakan hukum, ia memastikan proses hukum dilaksanakan secara adil tanpa tebang pilih.
Sugiat juga membela gaya komunikasi Presiden Prabowo yang mengutamakan ketegasan dan kepentingan nasional, serta menegaskan bahwa perombakan (reshuffle) kabinet merupakan hak prerogatif Presiden.
“Evaluasi dan penataan ulang pejabat yang dilakukan Presiden Prabowo murni didasarkan pada kebutuhan untuk mempercepat target pembangunan nasional, bukan karena tekanan pihak luar,” tegasnya.
Pertanyakan Metodologi Riset
Gerindra mempertanyakan metodelogi penilaian Celios yang dianggap lebih mencerminkan opini kelompok tertentu ketimbang ukuran kinerja yang objektif. Sugiat menyampaikan bahwa pemerintah tetap berfokus pada indikator pembangunan nyata seperti pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, dan pemerataan kesejahteraan.
“Menuntut perubahan indikator makroekonomi secara drastis dengan mengabaikan pertumbuhan riil justru akan menjebak negara dalam ukuran-ukuran abstrak yang tidak menyentuh kebutuhan dasar perut rakyat sehari-hari,” ujar Sugiat.
Ia juga menyayangkan narasi yang menggiring penyesuaian ekonomi transisi seolah-olah membuat seluruh rakyat stres, padahal mayoritas masyarakat dinilainya tetap optimistis.
Latar Belakang Laporan Celios
Sebelumnya, Celios bersama Kabinet Bayangan merilis laporan evaluasi dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran pada Minggu (11/10).
Direktur Eksekutif Celios, Bhima Yudhistira, mengungkapkan bahwa berdasarkan survei terhadap 1.122 responden, sebanyak 75 persen mengaku mengalami stres akibat kebijakan pemerintah. Keluhan utama responden meliputi:
- Kenaikan harga kebutuhan pokok
- Kesulitan memperoleh pekerjaan
- Masalah penegakan hukum
Meski temuan tersebut merupakan hasil penelitian Celios, pihak Gerindra secara tegas menyatakan keberatan atas kesimpulan maupun metode penilaian yang digunakan.
Penulis: Tika Fitri Lestari
Editor: Dahlan









