Riyadh – Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik didih baru setelah fasilitas minyak utama milik Saudi Aramco, kilang Ras Tanura, menjadi sasaran serangan drone pada Senin pagi, 2 Maret 2026.
Insiden ini memicu kekhawatiran global terhadap stabilitas pasokan energi dunia.
Kronologi Kejadian
- Waktu Serangan: Ledakan dilaporkan terjadi sekitar pukul 07.04 waktu setempat.
- Target Strategis: Serangan mengarah ke kilang Ras Tanura di pesisir Teluk Persia, yang merupakan salah satu pusat pengolahan minyak terbesar di dunia dengan kapasitas 550.000 barel per hari (bph).
Kementerian Pertahanan Arab Saudi menyatakan berhasil mencegat dua drone di atas fasilitas tersebut. Namun, jatuhnya puing-puing drone menyebabkan kebakaran terbatas di area kilang.
Sebagai langkah pencegahan, Saudi Aramco memutuskan untuk menutup sementara operasional kilang Ras Tanura guna mengevaluasi kerusakan dan memastikan keamanan pekerja.
Konteks Eskalasi Regional
Serangan ini merupakan bagian dari gelombang serangan balasan Iran terhadap negara-negara di kawasan Teluk menyusul operasi militer gabungan AS dan Israel ke wilayah Iran pada akhir Februari 2026. Selain kilang minyak, serangan drone juga dilaporkan menyasar titik strategis di Uni Emirat Arab (Dubai & Abu Dhabi), Qatar, serta Kedutaan Besar AS di Riyadh.
Dampak Ekonomi Global
Dunia merespons cepat insiden ini dengan lonjakan harga minyak mentah:
- Harga Minyak Brent: Melonjak sekitar 10%, menembus level $80 per barel, yang merupakan level tertinggi dalam empat tahun terakhir.
- Selat Hormuz: Kekhawatiran meningkat karena jalur pelayaran vital ini dilaporkan sempat mengalami hambatan operasional, mengancam distribusi 20% pasokan minyak dunia.
Juru bicara Kementerian Pertahanan Saudi, Turki Al-Maliki, mengonfirmasi tidak ada korban jiwa dalam serangan di Ras Tanura. Meskipun begitu, evakuasi pekerja sempat dilakukan saat asap hitam tebal terlihat membumbung tinggi dari lokasi kejadian.
Editor: Redaksi













