Jakarta – Presiden Prabowo Subianto menggelar pertemuan strategis dengan lima pengusaha besar nasional dalam sebuah diskusi tertutup yang berlangsung lebih dari 4,5 jam. Pertemuan tersebut menjadi sinyal kuat komitmen pemerintah dalam mempererat kolaborasi dengan dunia usaha guna mempercepat pertumbuhan ekonomi nasional.
Lima tokoh bisnis yang hadir dalam pertemuan itu adalah Garibaldi Thohir, Franky Oesman Widjaja, Prajogo Pangestu, Sugianto Kusuma, dan Anthony Salim. Kelima nama tersebut dikenal sebagai figur sentral dalam berbagai sektor industri, mulai dari energi dan pertambangan, perkebunan, manufaktur, properti, hingga industri pangan dan konsumer.
Mengutip unggahan Instagram resmi @sekretariat.kabinet pada Rabu (11/2/2026), Presiden Prabowo secara khusus mengajak para pengusaha untuk bersinergi dengan pemerintah dalam menciptakan lapangan pekerjaan, terutama di sektor riil. Langkah ini dinilai penting guna mendorong pengembangan industri nasional sekaligus memperkuat peran Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Dalam pertemuan tersebut, pembahasan disebut berfokus pada strategi mempercepat investasi, memperluas hilirisasi industri, serta memperkuat daya saing produk dalam negeri di pasar global. Pemerintah memandang dunia usaha sebagai mitra utama dalam mewujudkan agenda ekonomi strategis, termasuk transformasi industri berbasis nilai tambah.
Presiden Prabowo menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi yang berkualitas harus berdampak langsung pada masyarakat, terutama melalui penciptaan lapangan kerja yang luas dan berkelanjutan. Oleh karena itu, sektor riil menjadi prioritas karena memiliki efek berganda (multiplier effect) terhadap perekonomian, mulai dari penyerapan tenaga kerja hingga peningkatan konsumsi domestik.
Kolaborasi ini juga diharapkan mampu memperkuat struktur industri nasional agar tidak hanya bertumpu pada ekspor bahan mentah, melainkan mendorong pengolahan di dalam negeri. Dengan demikian, nilai tambah, penerimaan negara, serta kesejahteraan masyarakat dapat meningkat secara signifikan.
Selain itu, penguatan UMKM menjadi salah satu fokus penting dalam diskusi. Pemerintah mendorong keterlibatan perusahaan besar dalam membangun ekosistem kemitraan yang inklusif, sehingga UMKM dapat naik kelas, terintegrasi dalam rantai pasok industri, dan memiliki akses pembiayaan serta pasar yang lebih luas.
Pertemuan berdurasi panjang tersebut mencerminkan keseriusan kedua belah pihak dalam menyamakan visi pembangunan ekonomi nasional. Pemerintah ingin memastikan bahwa kebijakan yang dirumuskan selaras dengan dinamika dan kebutuhan dunia usaha, sekaligus tetap berpihak pada kepentingan rakyat.
Langkah Presiden Prabowo ini dinilai sebagai pendekatan strategis untuk menjaga stabilitas ekonomi, meningkatkan investasi, serta memperkuat optimisme pelaku pasar di tengah tantangan ekonomi global yang dinamis. Sinergi pemerintah dan pengusaha diharapkan menjadi motor penggerak utama dalam mencapai target pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
Dengan komunikasi yang intens dan kemitraan yang solid, agenda pembangunan nasional diyakini dapat berjalan lebih efektif, sekaligus membuka peluang kerja yang lebih luas bagi masyarakat Indonesia.(**)
Editor: Dahlan









