Home / Pendidikan

Selasa, 19 Mei 2026 - 19:13 WIB

Profesor dan Disdik Aceh Duduk Satu Meja, Rumuskan Arah Pendidikan hingga 2045

REDAKSI

Suasana hangat forum

Suasana hangat forum "Profesor Bicara Pendidikan Aceh" di Aula Dinas Pendidikan Aceh, Selasa (19/5/2026).

Banda Aceh – Sejumlah profesor dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Syiah Kuala bersama Dinas Pendidikan Aceh duduk satu meja membedah masa depan pendidikan Aceh dalam forum “Profesor Bicara Pendidikan Aceh” di Aula Dinas Pendidikan Aceh, Selasa, 19 Mei 2026.

Forum itu menjadi ruang bertemunya akademisi, legislator, kepala sekolah, dan pemangku kebijakan untuk menyampaikan berbagai kritik, gagasan, hingga solusi terhadap persoalan pendidikan di Aceh.

Dalam forum tersebut, para profesor menyoroti pentingnya penyusunan grand design pendidikan Aceh hingga 2045 agar pembangunan pendidikan tidak berjalan sendiri-sendiri di setiap jenjang.

Baca Juga :  Penerimaan Siswa Baru Jalur Prestasi di SMA Negeri 14 Banda Aceh Resmi Dibuka

Murthalamuddin menyebut pertemuan itu bukan sekadar diskusi seremonial, melainkan titik awal membangun kolaborasi yang lebih konkret antara kampus dan pemerintah.

“Pertemuan ini hanyalah titik awal. Akan ada lanjutannya. Para guru besar juga perlu memiliki sekolah binaan sebagai pilot project di pendidikan menengah,” kata Murthalamuddin.

Profesor FKIP USK, Prof. Sahminan menilai pendidikan Aceh membutuhkan arah pembangunan yang terintegrasi dan dukungan politik anggaran agar mampu bersaing menuju Indonesia Emas 2045.

Selain itu, isu pelestarian bahasa daerah menjadi salah satu pembahasan paling hangat. Sejumlah peserta mendorong penguatan muatan lokal bahasa Aceh di sekolah. Namun, Kepala Sekolah dari Blangkejeren, Aguswati mengingatkan agar kebijakan tersebut juga menghargai keberagaman bahasa lokal lain di Aceh seperti Gayo, Alas, Tamiang, dan Aneuk Jamee.

Baca Juga :  Buka Puasa Bersama, SMAN 13 Banda Aceh Perkuat Ukhuwah dan Karakter Siswa

Persoalan literasi dan numerasi siswa turut menjadi perhatian. Profesor FKIP USK, Prof. Mohd. Harun mendorong pembiasaan membaca 15 menit sebelum pelajaran dimulai serta menghidupkan kembali budaya menulis tangan untuk memperkuat daya ingat siswa.

Sementara itu, Prof. Rahmah Johar mengusulkan agar program “Professor Goes To School” kembali diperluas karena dinilai efektif membantu siswa memahami pelajaran, khususnya matematika.

Baca Juga :  Menata Ketahanan Pangan dari Sekolah

Dari sisi legislatif, anggota DPRA Dr. Irpannusir menegaskan pihaknya siap mendukung regulasi pendidikan, termasuk pelestarian bahasa daerah dan penertiban kutipan liar di sekolah.

Forum itu juga menyinggung pentingnya riset pendidikan, peningkatan kualitas kepala sekolah dan guru, budaya kebersihan sekolah, hingga penguatan pendidikan Islami yang terukur dan nyata dalam praktik pendidikan di Aceh.

Di akhir forum, seluruh peserta sepakat bahwa kemajuan pendidikan Aceh tidak dapat dibangun secara sektoral, melainkan membutuhkan sinergi berkelanjutan antara pemerintah, kampus, sekolah, dan masyarakat.

Editor: Redaksi

Share :

Baca Juga

Pendidikan

Prodi Teknologi Informasi Paling Diminati pada PMB Reguler SSE UIN Ar-Raniry 2026

Pendidikan

Duek Pakat IV Jadi Momentum Penguatan Mutu Pendidikan Aceh

Aceh

Kepala Dinas Pendidikan Aceh Tekankan Kinerja Maksimal ASN

Pendidikan

FDK UIN Ar-Raniry Lepas tim KPM-PKM Internasional ke Pulau Penang Malaysia

Pendidikan

Tiga Siswa SMAN 3 Banda Aceh Raih Medali Emas pada Lomba POSI 2025

Pendidikan

Tak Layak Digunakan, SMAS–SMPS Bustanul Ulum Minta Relokasi Pasca Banjir Bandang

Pendidikan

Plt Kadisdik Aceh Tinjau SMAN 6 Banda Aceh, Tekankan Disiplin Digital dan Pendidikan Karakter

Pendidikan

Kadisdik Aceh Motivasi Guru SMAN 1 Sungai Raya: Jadilah Arsitek Masa Depan Aceh