Banda Aceh – Forum Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMA Provinsi Aceh menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) bertajuk “Bersinergi dan Berkolaborasi Wujudkan Pendidikan Aceh Bermartabat, Hebat, dan Berkelanjutan” bertempag di Hotel Diana, Banda Aceh, 17–18 Mei 2026.
Kegiatan tahunan tersebut menjadi momentum strategis dalam memperkuat tata kelola pendidikan SMA di Aceh, sekaligus merumuskan langkah konkret untuk meningkatkan mutu pendidikan di seluruh kabupaten/kota.
Kegiatan ini turut dihadiri Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Aceh, Murtalamuddin SPd MSP, Kepala Bidang Pembinaan SMA dan PKLK, Syarwan Joni MPd, semua Kepala Cabang Dinas Pendidikan (Cabdisdik) wilayah kabupaten/kota, perwakilan empat orang Pengurus MKKS SMA 23 kabupaten/kota, serta mitra kerja dari Kepalaa Cabang Wilayah Aceh PT. Penerbit Erlangga, Sapriadi Syamsuddin.
Kadisdik Aceh, Murtalamuddin dalam arahannya menyampaikan, bahwa Rakor MKKS SMA Aceh bukan sekadar agenda rutin tahunan, melainkan momentum kebangkitan pendidikan Aceh.
Menurutnya, perbedaan kondisi geografis, tata kelola, serta capaian pendidikan antar wilayah harus dijawab melalui program-program konkret yang diterjemahkan langsung oleh kepala sekolah di lapangan.
Katanya, pendidikan Aceh harus bangkit. Rakor ini penting untuk membahas, mengkaji, dan menganalisis secara bersama-sama bagaimana tata kelola pendidikan SMA bisa diperkuat.
“Program Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Aceh harus benar-benar diaktualisasikan dalam program kerja sekolah dengan target capaian yang jelas,” ujar Murtalamuddin.
Ia menegaskan, kepala sekolah memegang peran sentral dalam menentukan kualitas pendidikan. Karena itu, seluruh kepala sekolah diminta mampu menerjemahkan visi dan misi Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh, Muzakir Manaf (Mualem) dan Fadhlullah (Dek Fadh), yakni mewujudkan pendidikan Aceh yang Islami, bermartabat, dan berkelanjutan.
Dijelaskannya, sekolah merupakan ujung tombak utama dalam mencetak generasi Aceh masa depan. Kemudian bahwa capaian Tes Kemampuan Akademik (TKA) tahun sebelumnya menjadi indikator penting dalam mengevaluasi mutu pendidikan Aceh.
Lebih lanjut dikatakannya, hasil pendidikan Aceh harus dijadikan refleksi bersama untuk mendorong pembenahan secara terukur dan sistematis.
Murtalamuddin menyayakan, peningkatan kualitas peserta didik dapat dilakukan melalui penguatan pola pembelajaran, kesiapan guru, hingga pembinaan siswa yang benar-benar siap melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Diharapkannya, Rakor MKKS SMA Aceh dinilai menjadi forum penting untuk melahirkan solusi atas berbagai tantangan pendidikan di Aceh.
“Ini isu strategis. Kita tidak boleh melihat tantangan pendidikan sebagai kegagalan, tetapi harus menjadi pemicu untuk bersinergi mencari solusi terbaik,” tandas Murthalamuddin.
Dtambahkannya, kepala sekolah harus menjadi penerobos, mencari alternatif pemecahan masalah pendidikan Aceh bersama seluruh mitra kerja.
Kepala Bidang Pembinaan SMA dan PKLK Aceh, Syarwan Joni mengatakan, pertemuan Rakor MKKS SMA Aceh ini menjadi spirit dan langkah baru untuk membangun energi positif dalam mempercepat peningkatan mutu pendidikan di Aceh.
Menurutnya, sinergi antara kepala sekolah, pemerintah, dan seluruh pemangku kepentingan pendidikan harus terus diperkuat agar mampu melahirkan solusi nyata terhadap berbagai tantangan pendidikan.
“Kita berharap forum ini menjadi energi baru, semangat baru, dan langkah bersama untuk memperkuat kolaborasi demi kemajuan pendidikan Aceh yang lebih baik ke depan,” pinta Syarwan.
Ketua MKKS SMA Provinsi Aceh, Muhibbul Khibri bersama jajaran Ketua MKKS SMA kabupaten/kota se-Aceh mengikuti sesi arahan dalam Rakor ini dapat bersinergi mewujudkan pendidikan Aceh yang bermartabat, hebat, dan berkelanjutan.
Muhibbul berharap, seluruh pemangku kebijakan pendidikan dapat memperhatikan aspek kompetensi dalam proses mutasi dan rotasi kepala sekolah.
“Mutasi yang lokasi sekolahnya terlalu jauh tanpa mempertimbangkan kondisi geografis dapat memengaruhi kenyamanan dan efektivitas kerja kepala sekolah,” ungkapnya.
Menurut Muhibbul, kepala sekolah memiliki peran sentral sebagai manajer utama pendidikan, sehingga harus diberikan kenyamanan dan ruang kerja yang optimal untuk menjalankan tugas secara maksimal.
Ia meminta, penempatan kepala sekolah hendaknya mempertimbangkan jarak tempat tinggal dan kondisi wilayah agar tidak menimbulkan kendala dalam menjalankan tugas.
“Jika kepala sekolah nyaman bekerja, maka tata kelola sekolah, guru, hingga pelayanan pendidikan kepada siswa juga akan berjalan lebih baik,” kata Muhibbul.
Adapun Ketua MKKS SMA kabupaten/kota yang hadir dalam Rakor tersebut adalah, Zulfikar SE MSi (Banda Aceh), Dr Sofyan MPd (Aceh Besar), Satria SPd (Sabang), Kamaruddin SPd (Pidie), Faisal Rizal SPd (Pidie Jaya), Zulfikri, SAg MM (Bireuen),
Kemusian Drs Marzuki MPd (Aceh Utara), Faisal MPd (Lhokseumawe), Burhanuddin SH MH (Aceh Timur), Muftar Janan,MPd q(Langsa), Drs. Abdul Haris MM (Aceh Tamiang), Razali SPd (Bener Meriah), Khonadi Lingga MPd (Aceh Tengah), Aguswati Gulo, MPd (Gayo Lues), Zainul Bakri SPd (Aceh Tenggara).
Selanjutnya, Maswadi MPd (Aceh Jaya), Sumardi MPd (Aceh Barat), M. Yunus SPd (Nagan Raya), Arianto SPd (Aceh Barat Daya), Muzakkir SPd (Aceh Selatan), Muhammad Kasdi SPd (Simeulue), Syukri SPd MM (Subulussalam), dan Mulyadi Kombih MPd (Aceh Singkil).(*)
Editor: Redaksi









